Rabu, 15 Maret 2023

RAHASIA KEADILAN DAN KEJUJURAN

 RAHASIA KEADILAN DAN KEJUJURAN

Allah memilih dua kelompok manusia :

1.    Para Nabi, yang menjelaskan kepada manusia cara beribadah dan cara mengenal Allah

2.    Para penguasa, yang Allah amanahi untuk mencegah kedzalimam dan memberikan kekuasaan untuk berhukum berdasarkan kemaslahatan rakyat secara bijak, karena Allah memberikan kedudukan yang mulia di antara makhluk-Nya atas kehendak dan kuasa-Nya :

          Leadership : Surat Imam Al-Ghazali untuk para Pemimpin, dalam kitab At-Tibru al- Masbuk Fie Nashihati al-Muluk[1] :

         Siapa yang diberikan Allah swt sebuah kekuasaan, kewenangan, dan diamanahi sebagai tempat naungan bagi manusia, maka wajib bagi semua rakyat untuk mencintai dan mentaatinya dan tidak boleh menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ            وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ ٥٩                                                                                                                

         Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat)(QS 4 Annisa : 59) 

         Wajib bagi kaum muslimin mentaati penguasa, menjalankan apa yang ia perintah, dan wajib diketahui bahwa Allah swt memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang ia kehendaki                                    

قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ٢٦

         Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu                                                                                                   .

         Penguasa yang adil adalah adil pada rakyatnya dan memusnahkan kedzaliman, sedangkan penguasa yang dzalim adalah pertanda kehancuran, tidak akan bertahan lama.

      الملك يبقى مع الكفر ولايبقى مع الظلم                                                            

         Kekuasaan akan terus berlanjut walau Bersama kekufuran, sedangkan kekuasaan tidak akan berlanjut dengan kedzaliman

 

          Agama dan kekuasaan seperti saudara kembar, keluar  dari perut yang sama. Tiap kekuasaan wajib diperhatikan dan dijauhkan dari hawa nafsu, bid’ah, kemungkaran, syubhat, dan dari apa saja yang mengurangi syariat.

         Orang-orang Majusi menguasai dunia empat ribu tahun lamanya karena sikap adil para penguasa kepada rakyatnya. Keadilan dijunjung tinggi dan agama memberantas kedzaliman, maka jadilah bangsa sejahtera karena keadilan.

         Nabi Musa AS seorang Nabi yang kritis terhadap Allah swt dan dianggap Nabi yang tidak sabaran serta terkesan tergesa-gesa dalam hal kaingin tahuan dalam hal rahasia keadilan Allah swt yang disembunyikan-Nya.

         Karena Allah swt senang dengan sikap kritisnya dan cinta kepada kekasih-Nya, Allah segera mengabulkan doanya. Allah menyuruh Musa pergi ke sebuah sumber air bersembunyi di dibaliknya. Di sana Musa akan melihat kekuasaan dan ilmu Allah tentang hal-hal ghaib. Musapun bergegas menuju bukit di hadapan sumber air tersebut. Musa duduk bersembunyi memperhatikan apapun yang akan terjadi.

         Musa melihat penunggang kuda datang ke sumber air tersebut. Ia turun dari kudanya, berwudhu, dan mengambil sedikit air untuk diminum. Musa melihat sang penunggang kuda tersebut meletakkan sebuah tas berisi uang seribu dinar di sampingnya. Selepas shalat, pria itu kembali menaiki kudanya, ia lupa tasnya tertinggal.

         Kemudian datanglah seorang anak kecil mengambil air minum di sumber air yang sama. Anak kecil tersebut melihat tas yang tertinggal itu kemudian membawanya pergi.

         Tak lama berselang datanglah seorang kakek tua yang buta. Ia minum air di sumber itu, lalu mengambil air wudhu dan shalat. Di tengah perjalanan sang penunggang kuda teringat tasnya yang tertinggal tadi. Ketika sampai penunggang kuda menjumpai seorang kakek tua tunanetra tersebut langsung menuduhnya mengambil tas yang berisi seribu dinar yang tertinggal itu karena tidak ada orang lain selain kakek tersebut.

         Kakek itu menjawab engkau kan tahu aku ini buta. Mendengar kakek tersebut si penunggang kuda marah. Ia naik pitam lalu menghunus pedangnya. Ditebasnya leher kakek yang malang itu dan tewas seketika. Penunggang kuda itu menggeledahnya, ternyata tidak ditemukan tasnya ia pun pergi. Engkau sungguh Maha Adil, kata Musa.

         Datanglah Malaikat Jibril berkata kepada Musa, Allah berfirman : Aku mengetahui segala rahasia dan apapun yang tidak kamu ketahui. Anak kecil yang mengambil tas itu sesungguhnya telah mengambil hak miliknya sendiri, lantaran ayah anak tersebut menjadi buruh penunggang kuda selama bertahun-tahun, namun ia tidak pernah mendapatkan hasil kerja kerasnya bila dihitung penghasilannya sama dengan jumlah uang yang ada dalam tas itu.

         Sedangkan si kakek buta itu pernah membunuh ayah pemilik tas tersebut. Ia mendapat hukum qisash darinya. Sampailah setiap orang yang punya hak akan mendapatkan haknya, baik yang terlihat mata manusia maupun yang sengaja Allah sembunyikan. Keadilan dan kejujuran Allah sangat rahasia. Usai mendengar penjelasan itu, Musa segera mengucap istighfar.

 

                                                                                                         

والله اعلم بآلصوا ب


 


0 comments:

Posting Komentar