RAHASIA KEADILAN DAN KEJUJURAN
Allah memilih dua kelompok manusia :
1. Para Nabi, yang
menjelaskan kepada manusia cara beribadah dan cara mengenal Allah
2. Para penguasa, yang
Allah amanahi untuk mencegah kedzalimam dan memberikan kekuasaan untuk berhukum
berdasarkan kemaslahatan rakyat secara bijak, karena Allah memberikan kedudukan
yang mulia di antara makhluk-Nya atas kehendak dan kuasa-Nya :
Leadership : Surat Imam Al-Ghazali
untuk para Pemimpin, dalam kitab At-Tibru al- Masbuk Fie Nashihati al-Muluk[1] :
Siapa yang diberikan Allah swt sebuah
kekuasaan, kewenangan, dan diamanahi sebagai tempat naungan bagi manusia, maka
wajib bagi semua rakyat untuk mencintai dan mentaatinya dan tidak boleh
menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا
اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ
تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ
تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ
الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ ٥٩
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi
Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda
pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul
(sunahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu
lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia
dan di akhirat)(QS 4 Annisa : 59)
Wajib bagi kaum muslimin mentaati
penguasa, menjalankan apa yang ia perintah, dan wajib diketahui bahwa Allah swt
memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang ia kehendaki
قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ
مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ
وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيْرٌ ٢٦
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau
berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut
kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau
kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah
segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu
.
Penguasa yang adil adalah adil pada rakyatnya dan memusnahkan kedzaliman,
sedangkan penguasa yang dzalim adalah pertanda kehancuran, tidak akan bertahan
lama.
الملك يبقى مع الكفر
ولايبقى مع الظلم
Kekuasaan akan terus berlanjut walau
Bersama kekufuran, sedangkan kekuasaan tidak akan berlanjut dengan kedzaliman
Agama dan kekuasaan seperti saudara
kembar, keluar dari perut yang sama.
Tiap kekuasaan wajib diperhatikan dan dijauhkan dari hawa nafsu, bid’ah,
kemungkaran, syubhat, dan dari apa saja yang mengurangi syariat.
Orang-orang Majusi menguasai dunia
empat ribu tahun lamanya karena sikap adil para penguasa kepada rakyatnya.
Keadilan dijunjung tinggi dan agama memberantas kedzaliman, maka jadilah bangsa
sejahtera karena keadilan.
Nabi Musa AS seorang Nabi yang kritis
terhadap Allah swt dan dianggap Nabi yang tidak sabaran serta terkesan
tergesa-gesa dalam hal kaingin tahuan dalam hal rahasia keadilan Allah swt yang
disembunyikan-Nya.
Karena Allah swt senang dengan sikap
kritisnya dan cinta kepada kekasih-Nya, Allah segera mengabulkan doanya. Allah
menyuruh Musa pergi ke sebuah sumber air bersembunyi di dibaliknya. Di sana
Musa akan melihat kekuasaan dan ilmu Allah tentang hal-hal ghaib. Musapun
bergegas menuju bukit di hadapan sumber air tersebut. Musa duduk bersembunyi
memperhatikan apapun yang akan terjadi.
Musa melihat penunggang kuda datang ke
sumber air tersebut. Ia turun dari kudanya, berwudhu, dan mengambil sedikit air
untuk diminum. Musa melihat sang penunggang kuda tersebut meletakkan sebuah tas
berisi uang seribu dinar di sampingnya. Selepas shalat, pria itu kembali
menaiki kudanya, ia lupa tasnya tertinggal.
Kemudian datanglah seorang anak kecil
mengambil air minum di sumber air yang sama. Anak kecil tersebut melihat tas
yang tertinggal itu kemudian membawanya pergi.
Tak lama berselang datanglah seorang
kakek tua yang buta. Ia minum air di sumber itu, lalu mengambil air wudhu dan
shalat. Di tengah perjalanan sang penunggang kuda teringat tasnya yang
tertinggal tadi. Ketika sampai penunggang kuda menjumpai seorang kakek tua
tunanetra tersebut langsung menuduhnya mengambil tas yang berisi seribu dinar
yang tertinggal itu karena tidak ada orang lain selain kakek tersebut.
Kakek itu menjawab engkau kan tahu aku
ini buta. Mendengar kakek tersebut si penunggang kuda marah. Ia naik pitam lalu
menghunus pedangnya. Ditebasnya leher kakek yang malang itu dan tewas seketika.
Penunggang kuda itu menggeledahnya, ternyata tidak ditemukan tasnya ia pun
pergi. Engkau sungguh Maha Adil, kata Musa.
Datanglah Malaikat Jibril berkata kepada
Musa, Allah berfirman : Aku mengetahui segala rahasia dan apapun yang tidak
kamu ketahui. Anak kecil yang mengambil tas itu sesungguhnya telah mengambil
hak miliknya sendiri, lantaran ayah anak tersebut menjadi buruh penunggang kuda
selama bertahun-tahun, namun ia tidak pernah mendapatkan hasil kerja kerasnya
bila dihitung penghasilannya sama dengan jumlah uang yang ada dalam tas itu.
Sedangkan si kakek buta itu pernah
membunuh ayah pemilik tas tersebut. Ia mendapat hukum qisash darinya. Sampailah
setiap orang yang punya hak akan mendapatkan haknya, baik yang terlihat mata
manusia maupun yang sengaja Allah sembunyikan. Keadilan dan kejujuran Allah
sangat rahasia. Usai mendengar penjelasan itu, Musa segera mengucap istighfar.
0 comments:
Posting Komentar