Selasa, 04 April 2023

MEWUJUDKAN KEPEMIMPINAN MUHAMMADIYAH BERKEADILAN DAN BERKEMAJUAN



MEWUJUDKAN KEPEMIMPINAN MUHAMMADIDIYAH

BERKEADILAN DAN BERKEMAJUAN

Ahmad Agus Bahauddin


Pendahuluan :

          Kelestarian hidup manusia di muka bumi ini menuntut keteraturan, sedangkan keteraturan menuntut ketertiban dan kepatuhan. Manusia hidup di antara makhluk lain di dalam jagad raya sebagai makhluk makrokosmopolitan, sedangkan manusia itu sendiri adalah makhluk mikrokosmopolitan. Keberadaan makhluk makrokosmopolitan sangat tergantung pada makhluk mikrokosmopolitan. Karena itu, manusialah yang diberi mandat sebagai wakil Tuhan di bumi (khalifatullah fil ardhi), meskipun mandat tersebut sempat dipertanyakan oleh malaikat. Al-Quran surah al-Baqarah (2) ayat (30) menyebutkan :

         Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (Al-Baqarah : 30)

         Pertanyaan malaikat kepada Tuhan tersebut, pertanyaan polos tetapi kritis. Karena apa yang dipertanykan malaikat tersebut kini menjadi kenyataan. Kerusakan dan pertumpahan darah hampir terjadi di semua wilayah bumi ini. Realitas kehidupan seperti itu menuntut refungsionalisasi tugas-tugas kakhalifahan.

          Kepemimpinan ; leadership ; manajerial sebagai sebuah amanat Qurani, mencakup keseluruhan tugas-tugas keagamaan yang sudah membutuhkan pola manajerial, baik yang terkait dengan dimensi vertikal maupun horizontal.  Keseluruhan persoalan agama perlu ditata dengan sistem manajemen yang kokoh, menjanjikan dan menjamin keberlangsungan tegaknya amar ma’ruf nahyi mungkar yang menjadi persyaratan lahirnya komunitas terbaik (khaira ummah). Kalau Muhammadiyah merupakan bagian dari keseluruhan persoalan agama, tentu saja dalam perspektif Islam, maka Muhammadiyah pun perlu ditata dengan sistem manajemen dimaksud untuk menjamin keberlangsungan tegaknya hukum dan keadilan.

          Rasulullah SAW tampil ketika manusia berada dalam masa jahiliyah telah berhasil mengubah wajah peradaban dalam waktu yang relatif singkat. Ini disebabkan pola manajerial Nabi dalam mendakwahkan Islam yang didukung oleh sifat-sifat kenabian yang sangat fundamental. Untuk pengembangan dan pelaksanaan pola manajerial, yaitu shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Keempat sifat Nabi itulah yang penulis fungsikan sebagai ruh yang akan mewarnai tulisan ini, yang pada masa kini  sifat-sifat tersebut sudah mulai memudar di sebagian kalangan pemimpin kita. Kepemimpinan yang akan dikupas di bawah ini bukanlah kepemimpinan dalam tataran teoritis konseptual, melainkan kepemimpinan sebagai tindakan praktis dan instrumental.

Makna Kepemimpinan :

          Secara luas kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya, mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa-peristiwa para pengikutnya, pengorganisasian dan aktivitas-aktivitas untuk mencapai sasaran, memelihara hubungan kerjasama dan kerja kelompok, perolehan dukungan dan kerjasama dari orang-orang di luar kelompok atau organisasi. (Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi,  2010 : ).

          Kadang-kadaang kepemimpinan dipahami sebagai kekuatan untuk menggerakkan  dan mempengaruhi orang, sebagai sebuah alat, sarana, atau proses untuk membujuk orang agar bersedia melakukan sesuatu secara sukarela. Ada beberapa faktor yang dapat menggerakkan orang,  karena ancaman, penghargaan, otoritas, dan bujukan.

          Kepemimpinan sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas yang ada hubungannya dengan pekerjaan pekerjanya. Tiga implikasi penting yang tergantung dalam hal ini : 1. Melibatkan antar anggota pimpinan, organisasi dan anggota persyarikatan maupun simpatisan. 2. Melibatkan pendistribusian tugas dan kewenangan antara pemimpin dan anggotanya secara seimbang, karena anggota dan simpatisan bukanlah tanpa daya. 3. Adanya kemampuan untuk menggunakan bentuk tugas dan kewenangan yang berbeda untuk mempengaruhi tingkah laku pimpinan dan anggotanya melalui berbagai cara.

         Dari makna kepemimpinan tersebut di atas, bahwa kepemimpinan Muhammadiyah pada hakikatnya adalah  proses mempengaruhi atau memberi contoh dari pimpinan Muhammadiyah kepada personal pimpinan lainnya dalam upaya mencapai visi dan missi Muhammadiyah. Seni mempengaruhi dan mengarahkan pimpinan beserta anggotanya dengan cara kepatuhan, kepercayaan, kehormatan, dan kerjasama yang bersemangat dalam mencapai tujuan bersama. Kemampuan untuk mempengaruhi, memberi inspirasi dan mengarahkan tindakan seseorang pimpinan dan anggota untuk mencapai tujuan yang diharapkan akan melibatkan tiga hal, yaitu pimpinan, persyarikatan, anggota dan situasi tertentu, serta  kemampuan mempengaruhi pimpinan lainnya serta anggota untuk mencapai tujuan.

Kepemimpinan Muhammadiyah

          Kepemimpinan di Muhammadiyah adalah kolektif kolegial, bukan kepemimpinan tunggal. Sebab, beban pimpinan persyarikatan begitu berat sehingga kita menganut model kolektif kolegial atau bersama-sama teman sejawat dalam memimpin. Demikian salah satu pokok materi yang disampaikan oleh Prof Dr Din Syamsuddim MA dalam Kajian Virtual #15 dengan tema “Pemimpin Ideal dalam Perspektif Al-Quran”. Hal itu dipaparkan Ketua PRM Pondok Labu, Jakarta Selatan itu dalam kajian rutin yang dilaksamakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ngawi, Ahad malam (5/9/2021). (Klikmu.co).

          Prof Din menjelaskan, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab penting untuk memberikan arah perjalanan bangsa, di antaranya melalui politik etik. Dengan begitu akan terbangun peradaban. Kepemimpinan di Muhammadiyah tidak sekadar sebagai leader, tetapi juga manajer untuk memajukan berbagai lini dakwah sehingga “gila” kerja dan ide. “Model Kepemimpinan di Muhammadiyah hendaknya juga luas dan memiliki keilmuan yang luas, luwes dan bijak dalam memimpin serta tegas untuk menegakkan hukum dan keadilan.

          Terkait dengan Islam washatiyah atau tengahan, Prof Din menjelaskan tujuh konsep. Pertama, tawassut, yaitu berada di jalur tengah. Kedua i’tidal yang bermakna berlaku adil. Ketiga, tasamuh memiliki arti menghormati perbedaan atau toleransi. Keempat, syura alias bermusyawarah. Islam tengahan juga punya konsep kelima, yaitu, islah. Tujuannya untuk konstruktif kebaikan bersama. Lalu keenam, ada kepeloporan dalam perjuangan. Ketujuh, muwatonah, mengakui dan menghormati kewarganegaraan,

          Ke depan menurut Haedar kepemimpinan Muhammadiyah terpilih akan menjalankan program yang arahnya lebih transformatif baik untuk program secara umum maupun bidang-bidang yang arahnya pada unggul berkemajuan terhadap segala aspek. Pimpinan akan mensosialisasikan dan menjadikan pandangan Islam berkemajuan dalam Risalah Islam berkemajuan yang telah ditetapkan untuk mendialogkan kepada berbagai kalangan di dalam dan luar negeri agar menjadi alam pikiran yang semakin luas dan terintegrasi dengan baik di persyarikatan ini. Selain itu, PP Muhammadiyah juga memiliki mandat untuk terus mendiskusikan mengenai isu-isu strategis keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal dan menjadi masukan penting di berbagai bidang.

          Haedar juga menyampaikan bahwa kepemimpinan Muhammadiyah ini satu mata rantai terstruktur dengan PWM, PDM, PCM, dan PRM,  maka kepemimpinan Muhammadiyah harus mampu memobilisasi seluruh gerak kepemimpinan secara nasional yang setelah muktamar ini akan diikuti oleh seluruh musyawarah baik ranting, cabang, daerah, dan wilayah. Itu memberi peluang untuk bersama-sama secara nasional menjalankan program. (MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA).

          Dalam kehidupan rumah tangga, relasi antara suami dengan istri harus moderat, atau dalam perspektif Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah kepemimpinan keluarga harus kolektif kolegial. Dalam relasi keluarga yang kolektif kolegial, di dalamnya tidak menganggap satu lebih unggul ketimbang yang lain, serta dalam pemilihan keputusan lebih mengedepankan rembugan dan diskusi bersama. Tidak ada pihak yang mendominasi dalam pengambilan keputusan, suami maupun istri berperan secara moderat-tengahan. (MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURAKARTA).

          Menurut Siti Syamsyiatun, kepemimpinan itu terdistribusi seperti yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun an ra’iyyatihi” yang artinya setiap dari kalian adalah pemimpin, dan tia-tiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya. Hadist ini sebagai pijakan termasuk dalam rumah tangga, berkaca dari itu maka dalam rumah tangga tidak ada one man show karena baik suami maupun istri memiliki kekurangan dan kelebihan. Apa yang terjadi di Muhammadiyah kepemimpinan kolektif kolegial mestinya juga diterapkan dalam rumah tangga,” (tutur Syamsyiatun saat diwawancara reporter muhammadiyah.or.id pada (4/2).

          Bahkan, kata Syamsiyatun, pengambilan keputusan dalam rumah tangga bukan hanya melibatkan suami dan istri, tapi juga melibatkan anak sebagai team work. Karena masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan, maka dalam pengambilan keputusan bisa dilakukan oleh ketiga unsur tersebut dengan mengedepankan musyawarah. Misalnya soal pemilihan tempat rekreasi, anak-anak lebih mengetahui bagaimana cara order, mencari dan lain sebagainya,” imbuh Ketua Lembaga Penelitian Pengembangan PP ‘Aisyiyah (LPPA).

       Menurutnya sebagai tim, keluarga akan relatif lebih mudah dalam menghadapai dan menyelesaikan masalah ketika suami misalnya sebagai satu-satunya pihak yang mencari nafkah tergangu, maka istri dengan kreatiftitasnya bisa membantu untuk memutar kembali roda ekonomi keluarga. Termasuk peran domestik yang selama ini biasa dilakukan oleh istri, suami juga bisa membantunya. Misalnya istri sedang ada pertemuan atau agenda dengan  ‘Aisyiyah, maka suami bisa mengerjakan pekerjaan domestik yang biasa dilakukan oleh istri.

          Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Anwar Abbas berpendapat Muktamar ke-48 Muhammadiyah pada 18-20 November 2022 harus mampu menghasilkan kepemimpinan bercorak kolektif kolegial. Corak kepemimpinan Muhammadiyah  masa depan, selain mementingkan kompetensi dan integritas, juga harus benar-benar bisa mendukung bagi terbentuk dan tegaknya sebuah kepemimpinan kolektif kolegial di mana segala masalah dihadapi secara bersama-sama dengan musyawarah mufakat, ( Jakarta, Senin  31/10/2022).

         Dengan corak kepemimpinan seperti itu, Muhammadiyah akan mampu berkontribusi bagi bangsa dan negara Indonesia dalam mengatasi berbagai tantangan yang semakin berat. Tantangan tersebut, di antaranya berkaitan dengan desakan perubahan akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan dalam konstelasi politik dunia, serta potensi terjadinya pergeseran pusat peradaban dan kemajuan dari Barat ke Asia Timur dan Asia Selatan yang di dalamnya termasuk Indonesia. Berikutnya, ada pula persoalan mengenai dunia yang diperkirakan akan dilanda resesi pada 2023. Negeri ini tentu saja akan sulit melepaskan diri dari dampak (resesi) karena ekonomi kita dan juga negara-negara lain telah terintegrasi sedemikian rupa ke dalam ekonomi dunia sehingga apabila di suatu negara ada masalah, maka dia dengan sendirinya juga akan berpengaruh kepada negara lain, termasuk negara Indonesia,

          Kepemimpinan yang kompeten, berintegritas, dan bercorak kolektif kolegial juga akan mampu mendorong roda organisasi Muhammadiyah berputar lebih cepat, sehingga kemajuan organisasi itu juga dapat dipercepat. Selanjutnya, Anwar menilai pula para peserta Muktamar ke-48 Muhammadiyah harus memikirkan hal-hal yang perlu dilakukan jajaran kepengurusan PP Muhammadiyah untuk masa lima tahun ke depan dalam membantu bangsa dan negara Indonesia menghadapi beragam tantangan yang ada. Apabila hal-hal ini bisa terjadi, kontribusi Muhammadiyah bagi kemajuan umat, bangsa, dan negara dalam berbagai aspek serta dimensinya tentu akan bisa didorong dengan lebih baik dan lebih besar lagi. (REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA).

.Landasan Pokok  Kepemimpinan Muhammadiyah :

         Islam mengandung tiga komponen pokok yang terstruktur dan tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya, yaitu :

Aqidah atau ImanKeyakinan adanya Allah dan Rasul Nya dipilih untuk menyampaikan risalahnya kepada ummat melalui Malaikat yang dituangkan dalam kitab suci. Keyakinan mendorong seseorang pimpinan Muhammadiyah untuk konsisten dan berpegang teguh menyerahkan segenap hidupnya kepada Allah Maha Pencipta. Dengan demikian aqidah akan selalu menuntun perilaku  pimpinan secara kolektif kolegial agar berbuat baik sesama, apalagi dalam kegiatan sehari-hari di Muhammadiyah. Aqidah yang tertanam dalam jiwa pimpinan akan senantiasa menghadirkan dirinya dalam pengawasan Allah SWT. Keyakinan aqidah ini akan berimplikasi membentuk pribadi pimpinan Muhammadiyah : 1. Menumbuhkan jiwa merdeka bagi pimpinan dalam pergaulan hidup, tidak ada manusia yang menjajah manusia lain, termasuk dirinya sendiri dan tidak akan menjajah orang lain. 2. Menjadikan pimpinan memiliki keberanian untuk berbuat, karena tidak ada baginya yang ditakuti  selain Allah. Ia akan selalu bicara kebenaran, selalu lurus dan konsisten perilakunya. 3. Membentuk rasa optimis menjalani kehidupan, karena tauhid menjamin hasil yang terbaik yang akan dicapainya secara rohaniah, karena itu pimpinan tidak pernah gelisah dan putus asa..

Syariah : Aturan Allah tentang pelaksanaan penyerahan diri secara total melalui proses ibadah dalam hubungan sesama makhluk. Secara garis besar, syariah meliputi dua hal pokok yaitu ibadah dalam arti khusus atau ibadah mahdhah, yang pelaksanaannya dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dan ibadah ghairu mahdhah, yang pelaksanaannya tidak seluruhnya dicontohkan Rasulullah SAW seperti hubungan ekonomi, politik, hukum, hubungan antar manusia dan lain-lain. Kepemimpinan Muhammadiyah termasuk dalam hubungan antara pimpinan dengan pimpinan, organisasi dan  dengan anggotanya.

Akhlaq : Kata akhlaq berarti perangai, tabiat dan adat. Ini merupakan sistem perilaku yang dibuat. Kata akhlaq selalu berkonotasi positif, orang yang baik seringkali disebut orang yang berakhlaq, sementara orang yang tidak berbuat  baik disebut orang tidak berakhlaq. Akhlaq juga artinya pelaksanaan ibadah kepada Allah dan bermuamalah dengan. Ruang lingkup akhlaq mencakup hal-hal sebagai berikut : 1. Hubungan manusia dengan Allah, mentauhidkan Allah, menghindari syirik, bertaqwa, memohon pertolongan kepada Nya, berdoa dan berzikir. Pada saat sekarang banyak orang beragama, tetapi lupa Tuhannya. 2.  Pola hubungan manusia dengan Rasulullah, menegakkan sunnah. 3. Pola hubungan manusia dengan dirinya sendiri, seperti menjaga kesucian diri, tidak mengumbar hawa nafsu, selalu menyampaikan kebenaran, memberantas kedzaliman, kebodohan dan sebagainya. 4.  Pola hubungan dengan keluarga, berbakti kepada kedua orang tua, tutur kata yang baik dan sebagainya. 5. Ihsan, saling menghormati dan sebagainya. 6. Pola hubungan manusia dengan alam, seperti menjaga kelestarian alam, tidak serakah, merusak bumi, menebang hutan dan sebagainya.

Tugas Kepemimpinan Muhammadiyah :

1.               Kepemimpinan sebagai amanat : Pimpinan dengan potensi yang dimilikinya telah dipilih, ditunjuk dan diangkat dengan suatu keputusan musyawarah mufakat, mendapat mandat untuk memimpin Muhammadiyah. Mandat kepemimpinan ini digambarkan Allah dalam Al-Quran surat Al-Ahzab (33) ayat (72) :

072. Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,

          Tugas kepemimpinan itu tidak dilepas begitu saja tanpa diberikan kewenangan-kewenangan untuk mengelola Muhammadiyah. Ini berarti untuk kelancaran tugas tersebut, telah disiapkan sarana dan prasarana yang lengkap secara bertahap. Sebagai imbangannya tugas kepemimpinan bukan tugas tanpa pertanggungjawaban. Karena itu tugas ini berkelanjutan dan berkesinambungan dari pimpinan satu ke pimpinan berikutnya secara konsisten melanjutkan program persyarikatan yang sama, mulai dari programming, actuating sampai controlling, mulai dari menata, merawat, memanfaatkan, dan melestarikan. Keseluruhan tugas-tugas tersebut diarahkan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan ummat khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.

2.      Amanat mengembangkan IPTEK : Surat al-alaq ayat 1-5 merupakan surat pencerahan dan pemberdayaan ummat. Surat ini turun dalam era kejumudan  bangsa Arab yang terkenal dengan predikat jahiliyyah. Melalui pencerahan iqra dalam arti yang lebih luas, membaca, menelaah, mengkaji, dan meneliti  bisa berubah menjadi bangsa yang berperadaban dan berkeadilan. Perintah ini adalah perintah membaca. Sebuah perintah yang merupakan kata kunci untuk mencapai informasi dan sebuah perintah yang menuntut usaha pengembangan lewat suatu sistem yang terdokumentasi, dan disimbolisasikan dengan kata al-qalam yang berarti alat tulis menulis, seperti komputer dan lain-lain.

3.      Amanat pemberdayaan ummat : Al-Quran adalah kitab petunjuk (hudan), bagi siapa saja yang memanfaatkannya, baik muslim (hudan lil muttaqin) maupun manusia (hudan lin nas) secara umum. Al-Quran memiliki tujuan praktis bagi pembentukan atau pembinaan manusia yang baik dan adil secara moral. Manusia tipe ini harus yang shaleh, baik shaleh ritual maupun shaleh sosial yang memiliki kesadaran  tajam dan kuat tentang refleksi doktrin dan pengakuan terhadap “ La ilaha illa Allah”, Tidak ada Tuhan selain ALLAH. Refleksi kesadaran itu harus melahirkan komitmen untuk mengomandokan yang haq dan mendiskomandokan yang batil. Tugas ini dalam bahasa al-Quran disebut ‘amar ma’ruf nahyi munkar’.

4.                Meneladani sifat-sifat Allah : Beragama berarti sikap seseorang dalam merespons aturan-aturan yang telah digariskan, atau sebagai upaya mencontoh, meneladani sifat-sifat Allah sesuai kemampuan manusia. Jadi, seseorang tidak bisa disebut beragama apabila tidak berupaya meneladani sifat-sifat Allah. Ada kata Allah, Rabb, dan Ilaah. Semua itu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai Tuhan. Al-Quran menjelaskan Tuhan dengan tidak menyinggung zat, karena penjelasan Tuhan dari dimensi dzat tidak akan terjangkau oleh pikiran manusia. Itu sebabnya al-Quran menjelaskan Tuhan dari dimensi sifat, karena dimensi sifat berbicara fungsional seperti al-Khaliq (Maha Pencipta), al-Alim (Maha Mengetahui), al-Malik (Yang Maha Raja), al-Qadir (Maha Kuasa) dan lain-lain. Meneladani sifat Allah sebagai Khaliq misalnya, berarti bahwa manusia dalam menjalankan tugas kepemimpinan harus kreatif. Nikmat potensial berupa akal sehat itu harus digunakan secara optimal dengan mengembangkan budaya nalar, kreatif, budaya tafakkur, dan tadabbur. Meneladani sifat Allah ini menggambarkan bahwa pimpinan Muhammadiyah dituntut menjadi manusia kreatif, inovatif, dan partisipatif.

5.      Sifat-Sifat Kenabian dalam Konteks Manajemen Diri Pimpinan : Nabi Muhammad SAW disamping menerima mukjizat sebagai bukti kerasulan dan kenabian, juga dilengkapi sifat-sifat kenabian Siddiq,Amanah, Tabligh, dan Fathanah.

Si Sifat shiddiq berarti benar atau terpercaya. Pimpinan yang benar dan terpercaya akan bersikap amanah. Pimpinan yang amanah akan dipercaya oleh sesame pimpinan dan para anggotanya, dan akan mudah menjalani hubungan persahabatan dengan siapapun. Karena itu, tidak akan ada pergaulan bila tidak ada kejujuran dan tidak akan ada kejujuran bila pimpinan tidak berpegang pada amanah.

Kata amanah berkorelasi dengan kata aman dan iman. Ini berarti secara konsep pimpinan  yang diberi amanah harus menjamin amanah yang dibebankan kepadanya menjadi aman. Jika pimpinan berlaku sebaliknya terhadap amanah, berarti iman yang bersangkutan belum imun (kebal). Amanah sering pula dipahami sebagai kejujuran, karena orang yang jujur akan memegang dan menjalani amanah dengan baik. Meskipun demikian amanah bukan berarti sekedar jujur atau kejujuran, tetapi juga pertanggungjawaban atas misi yang diemban. Jujur bukan berarti jalan di tempat, melainkan harus bervisi ke depan, berkaitan dengan marketable dan bernilai jual tinggi. Karena akuntabilitas pada dasarnya pertanggungjawaban atas nikmat dengan pembuktian rasa syukur yang benar, baik bersyukur pada tatanan horizontal maupun pada tatanan vertical. Bersyukur sendiri harus meliputi dimensi lisan, kalbu, dan aksi. Jadi, amanah berarti pula menjalankan tugas secara professional dan proporsional. Bekerja asal-asalan adalah tanda tidak amanah dan yang tidak amanah akan merusak persahabatan.

Sifat tabligh yang berarti menyampaikan. Apa yang disampaikan adalah amanat (misi kerasulan). Menyampaikan pesan ilahi tentu membutuhkan sistem dan jaringan serta alat-alat komunikasi seperti, kendaraan, telpon, internet, twitter, facebook, televisi, radio dan lain-lain. Ini berarti pula kebenaran tidak boleh disembunyikan, perlu ekspos. Dan penyampai pesan harus menguasai medan dan memahami culture audience agar pesan yang ingin digagas dapat ditangkap sepenuhnya oleh pendengar dan pemirsa. Tabligh juga berarti transparansi dan dialogis, karena monolog akan sangat cepat melahirkan kejenuhan. Dalam konsep komunikasi, sebuah pesan baru dianggap komunikatif bila ada respons timbal balik.

Sifat fathanah berarti cerdik dan strategik. Sifat ini berkaitan dengan kualitas SDM. Setiap orang secara potensial dibekali potensi-potensi yang kuat. Secara aktual harus dikembangkan, dibina, dan dididik, maka manusia tidak boleh berhenti mengikuti program pembelajaran. Kecerdikan adalah keunggulan yang berkaitan dengan produktivitas. Bahwa kebangkrutan bangsa dan negara serta kejatuhan pimpinannya adalah akibat sumber daya manusia yang tidak mengikuti dan mengamalkan sifat-sifat kenabian. Sifat-sifat kenabian di atas bukan untuk dihafal, melainkan untuk menjadi teladan dalam mengelola amanat, kedudukan, dan tugas-tugas kepemimpinan Muhammadiyah. Untuk itu dibutuhkan suatu perencanaan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual yang tinggi dan dapat menjadi bekal pimpinan atau calon pimpinan Muhammadiyah..

Kepemimpinan Muhammadiyah Masa Kini dan Masa Depan

          Akhir abad sekarang membawa simbol khusus. Kita hidup pada satu sejarah perputaran era teknologi. Lebih dua dekade yang lalu revolusi informasi menghasilkan komputer dan softwair, juga internet. Umat manusia menjadi benar-benar dihubungkan dan hidup menjadi tidak sama. Revolusi ini mempunyai cabang-cabang substansi dalam sistem sosial. Melalui superleadership seseorang dapat mempengaruhi orang lain. Revolusi teknologi akan mengubah sifat kepemimpinan yang pengaruhnya sangat luas. Saat ini kita sedang berada di tengah perubahan sosial dimana teknologi mentranformasi bisnis, struktur keluarga, sekolah, pemerintahan, dan bahkan persyarikatan Muhammadiyah.Sesungguhnya kita menghadapi arena yang penuh tantangan untuk mencoba leadership pada abad ke 21, yang menekankan pemberdayaan orang lain yang disebut sebagai superleadership yaitu memimpin orang lain untuk memimpin dirinya  sendiri.

           Perkembangan revolusi informasi menyebabkan terjadinya destruktif organisasi. Oleh karena itu hirarki tidak lagi dibutuhkan dan mempermudah gerakan informasi yang diperlukan untuk tugas integrasi. Bahkan antar dan intern organisasi  sekarang dapat berkomunikasi langsung dengan gerakan yang lebih cepat, fleksibel   dan efektif. Hal ini memerlukan kemampuan dan pengetahuan untuk mengatur kebutuhan informasi dengan cepat. Aset organisasi yang benar tidak lagi berbentuk fisik bangunan, tetapi pengetahuan yang diinvestasikan oleh modal sumber daya manusianya. Bagaimana cara memimpin para pimpinan dan anggotanya yang berpengetahuan ini, tentu pimpinan harus memiliki kiat-kiat sebagai berikut : 1. Perlu meyakini bahwa kontrol yang paling utama adalah datang dari dalam esensi diri leadership. 2. Perlu mengoptimalkan potensi sumber daya manusia dengan tidak mengabaikan self-leadership dari dalam.

3.          Pimpinan yang paling efektif pada era globalisasi ini akan menjadi seorang superleadership, seseorang  yang memimpin orang lain untuk memimpin diri sendiri di era transformasi, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Isra (17) ayat  ( 15) :

     015. Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng`adzab sebelum Kami mengutus seorang Rasul.

          Pertimbangan strategi bagi seorang superleader adalah :1. Lebih banyak mendengar, sedikit berbicara. 2. Lebih banyak bertanya, sedikit memberi jawaban. 3. Membantu belajar dari kesalahan, tidak takut konsekuensi. 4. Memberikan pemecahan masalah dengan orang lain, dari pada menyelesaikan masalah untuk orang lain. 5. Berbagi informasi dari pada menyimpannya. 6. Memberikan kreativitas bukan memberikan persesuaian. 7. Membentuk teamwork dan kolaborasi bukan kompetisi destruktif. 8. Membantu ketidaktergantungan dan saling ketidaktergantungan bukan ketergantungan. 9.  Mengembangkan komitmen self-leader, bukan pengikut yang tunduk. 10. Memimpin orang lain untuk memimpin dirinya sendiri, bukan di bawah kontrol orang lain. 11. Membangun struktur organisasi yang mendukung self-leadership, seperti team self-managing, team virtual, dan team yang  berjarak. 12. Membangun sistem informasi melalui intranet dan internet, yang mendukung self-leadership. 13.  Membangun budaya self-leading di seluruh satuan persyarikatan.

          Revolusi teknologi menyebabkan perubahan cara Muhammadiyah menyusun dirinya sendiri. Perubahan struktur dan kultur Muhammadiyah membutuhkan perubahan budaya yang lebih radikal, yaitu sistem sosial yang ada dalam lembaga tersebut. Esensi perubahan budaya ini merupakan investasi dan menekankan pada pengetahuan kerja, yaitu proses orang-orang dan transformasi informasi. Budaya yang muncul ini menempatkan nilai pada mentorsip, pembelajaran, inisiatif dan kreativitas. Agar benar-benar efektif, pekerja pengetahuan perlu diberdayakan pada level yang sudah  maju. Modal dasar manusia yang cakap dan terdidik akan menjadi unsur utama keberhasilan Muhammadiyah. Orang  perlu mampu memimpin dirinya sendiri.  Orang  yang berilmu dijanjikan oleh Allah SWT tempat yang mulia, sebagaimana tercantum dalam al-Quran surah al-Mujadalah (58) ayat (11) :

 011. Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

          Lebih lanjut dikatakan, bahwa self-leadership adalah perluasan strategi yang difokuskan pada perilaku, pola pikir dan perasaan yang digunakan untuk mempengaruhi atas diri sendiri. Juga apa yang orang lakukan untuk memimpin diri mereka sendiri. Yang berarti bahwa setiap orang adalah pemimpin yang akan  mempertanggungjawabkan  kepemimpinannya. (HR. Bukhari Muslim).

          Mengembangkan setiap orang menjadi self-leadership yang efektif adalah tantangan yang menarik dan berat bagi persyarikatan Muhammadiyah. Pemimpin yang melakukan ini disebut superleader, suatu istilah yang digunakan manajer dan eksekutif yang bertanggung jawab memimpin orang lain, khususnya anggota Muhammadiyah. Superleader mendesain dan meletakkan sistem yang diikuti dan mengajarkan anggota untuk menjadi self-leader. Pendekatan tersebut, terdiri dari perluasan perangkat perilaku, yang semuanya dimaksudkan untuk menjadikan anggota mempunyai kemampuan perilaku dan kognitif yang penting untuk melatih self-leadership. Sifat Rasulullah SAW selalu memberikan inspirasi bagi umatnya sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Ahzab (33) ayat (21) :

  021. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

          Self- leadership tersebut,  merupakan langkah awal yang penting untuk memahami superleadership. Secara khusus akan memusatkan perhatian pada ketera                                          mpilan yang membentuk dasar superleadership. Sebagaimana tersebut di atas, bahwa superleadership adalah memimpin orang lain untuk memimpin dirinya sendiri. Gagasan ini bersumber pada pandangan bahwa esensi semua kontrol atas anggota adalah teristimewa pada daya diri. Dengan mengabaikan dari mana datangnya kontrol, apakah dari pimpinan atau kebijakan persyarikatan, akibatnya  bergantung pada bagaimana kontrol ini dievaluasi, diterima dan diterjemahkan oleh setiap anggota ke dalam komitmen pribadinya. Pimpinan harus menjadi tokoh bagi orang yang dipimpin, dan semua itu terpancar dari dirinya. Kemampuan self-leadership inilah sebagai kunci kepemimpinan masa kini dan masa depan. A-Quran surah al-Ankabut (29) ayat (6) menyebutkan :

 006. Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak  memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

          Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa  kepemimpinan Muhammadiyah masa kini dan masa depan,  merupakan pengembangan  strategi pimpinan sebagai superleader yang difokuskan pada perilaku, pola pikir dan perasaan yang digunakan untuk mempengaruhi diri sendiri, juga  para pimpinan dan para anggotanya  untuk memimpin diri mereka sendiri (self-leader), dan harus memiliki kompetensi yuridis dan non yuridis yang masing-masing akan  mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Atas dasar beberapa uraian di atas, maka kepemimpinan kolektif kolegial Muhammadiyah berkeadilan dan berkemajuan akan terwujud.

Wallahu A’lamu Bishshawab.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aziz Fakhrurrazi, Prof.Dr.H.MA dan Erta Mahyudin, Lc,SS,M.Pd.I, Fiqih   Manajerial Aplikasi Nilai-Nilai Ibadah Dalam Kehidupan, Pustaka Al-Mawardi, Cetakan Pertama, Agustus 2010, Jakarta, 2010.

Buchari Alma, Prof.Dr.H, dan Donni Juni Priansa, S.Pd, Manajemen Bisnis Syariah, Alfabeta, Bandung, 2009.

Mahkamah Agung RI, Cetak Biru Pembaruan Peradilan 2010-2035, 2010.

Peter Mahmud Marzuki, Prof.Dr.SH.MS,LL.M, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2010.

Veithzal Rivai, Prof.Dr.M.B.A dan Deddy Mulyadi, Prof.Dr.M.Si, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, Edisi Ketiga, PT RAJAGRAFINDO PERSADA, Jakarta, 2010.

Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Quran Disempurnakan Oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Quran, AL-‘ALIM AL-QURAN DAN TERJEMAHANNYA, Edisi Ilmu Pengetahuan, PT Mizan Pustaka, Bandung, 2009.

Klikmu.co

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURAKARTA

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                              

 

 

 

 

 

 

 

 

 


0 comments:

Posting Komentar