MEWUJUDKAN KEPEMIMPINAN MUHAMMADIDIYAH
BERKEADILAN DAN BERKEMAJUAN
Ahmad Agus Bahauddin
Pendahuluan
:
Kelestarian hidup manusia di muka bumi ini menuntut keteraturan, sedangkan keteraturan menuntut ketertiban dan kepatuhan. Manusia hidup di antara makhluk lain di dalam jagad raya sebagai makhluk makrokosmopolitan, sedangkan manusia itu sendiri adalah makhluk mikrokosmopolitan. Keberadaan makhluk makrokosmopolitan sangat tergantung pada makhluk mikrokosmopolitan. Karena itu, manusialah yang diberi mandat sebagai wakil Tuhan di bumi (khalifatullah fil ardhi), meskipun mandat tersebut sempat dipertanyakan oleh malaikat. Al-Quran surah al-Baqarah (2) ayat (30) menyebutkan :
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman
kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah
di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui". (Al-Baqarah : 30)
Pertanyaan malaikat kepada Tuhan
tersebut, pertanyaan polos tetapi kritis. Karena apa yang dipertanykan malaikat
tersebut kini menjadi kenyataan. Kerusakan dan pertumpahan darah hampir terjadi
di semua wilayah bumi ini. Realitas kehidupan seperti itu menuntut
refungsionalisasi tugas-tugas kakhalifahan.
Kepemimpinan ; leadership ;
manajerial sebagai sebuah amanat Qurani, mencakup keseluruhan tugas-tugas
keagamaan yang sudah membutuhkan pola manajerial, baik yang terkait dengan
dimensi vertikal maupun horizontal. Keseluruhan persoalan agama perlu ditata
dengan sistem manajemen yang kokoh, menjanjikan dan menjamin keberlangsungan
tegaknya amar ma’ruf nahyi mungkar yang menjadi persyaratan lahirnya komunitas
terbaik (khaira ummah). Kalau Muhammadiyah merupakan bagian dari keseluruhan
persoalan agama, tentu saja dalam perspektif Islam, maka Muhammadiyah pun perlu
ditata dengan sistem manajemen dimaksud untuk menjamin keberlangsungan tegaknya
hukum dan keadilan.
Rasulullah SAW tampil ketika manusia
berada dalam masa jahiliyah telah berhasil mengubah wajah peradaban dalam waktu
yang relatif singkat. Ini disebabkan pola manajerial Nabi dalam mendakwahkan
Islam yang didukung oleh sifat-sifat kenabian yang sangat fundamental. Untuk
pengembangan dan pelaksanaan pola manajerial, yaitu shiddiq, amanah, tabligh,
dan fathanah. Keempat sifat Nabi itulah yang penulis fungsikan sebagai ruh yang
akan mewarnai tulisan ini, yang pada masa kini
sifat-sifat tersebut sudah mulai memudar di sebagian kalangan pemimpin
kita. Kepemimpinan yang akan dikupas di bawah ini bukanlah kepemimpinan dalam
tataran teoritis konseptual, melainkan kepemimpinan sebagai tindakan praktis
dan instrumental.
Makna
Kepemimpinan :
Secara luas kepemimpinan meliputi
proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku
pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan
budayanya, mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa-peristiwa para
pengikutnya, pengorganisasian dan aktivitas-aktivitas untuk mencapai sasaran,
memelihara hubungan kerjasama dan kerja kelompok, perolehan dukungan dan
kerjasama dari orang-orang di luar kelompok atau organisasi. (Veithzal Rivai
dan Deddy Mulyadi, 2010 : ).
Kadang-kadaang kepemimpinan dipahami
sebagai kekuatan untuk menggerakkan dan
mempengaruhi orang, sebagai sebuah alat, sarana, atau proses untuk membujuk
orang agar bersedia melakukan sesuatu secara sukarela. Ada beberapa faktor yang
dapat menggerakkan orang, karena
ancaman, penghargaan, otoritas, dan bujukan.
Kepemimpinan sebagai proses
mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas yang ada hubungannya dengan
pekerjaan pekerjanya. Tiga implikasi penting yang tergantung dalam hal ini : 1.
Melibatkan antar anggota pimpinan, organisasi dan anggota persyarikatan maupun
simpatisan. 2. Melibatkan pendistribusian tugas dan kewenangan antara pemimpin
dan anggotanya secara seimbang, karena anggota dan simpatisan bukanlah tanpa
daya. 3. Adanya kemampuan untuk menggunakan bentuk tugas dan kewenangan yang
berbeda untuk mempengaruhi tingkah laku pimpinan dan anggotanya melalui berbagai
cara.
Dari makna kepemimpinan tersebut di
atas, bahwa kepemimpinan Muhammadiyah pada hakikatnya adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh dari
pimpinan Muhammadiyah kepada personal pimpinan lainnya dalam upaya mencapai
visi dan missi Muhammadiyah. Seni mempengaruhi dan mengarahkan pimpinan beserta
anggotanya dengan cara kepatuhan, kepercayaan, kehormatan, dan kerjasama yang
bersemangat dalam mencapai tujuan bersama. Kemampuan untuk mempengaruhi,
memberi inspirasi dan mengarahkan tindakan seseorang pimpinan dan anggota untuk
mencapai tujuan yang diharapkan akan melibatkan tiga hal, yaitu pimpinan, persyarikatan,
anggota dan situasi tertentu, serta kemampuan
mempengaruhi pimpinan lainnya serta anggota untuk mencapai tujuan.
Kepemimpinan
Muhammadiyah
Kepemimpinan di Muhammadiyah adalah kolektif kolegial, bukan
kepemimpinan tunggal. Sebab, beban pimpinan persyarikatan begitu berat sehingga
kita menganut model kolektif kolegial atau bersama-sama teman sejawat dalam
memimpin. Demikian salah satu pokok materi yang disampaikan oleh Prof Dr Din
Syamsuddim MA dalam Kajian Virtual #15 dengan tema “Pemimpin Ideal dalam
Perspektif Al-Quran”. Hal itu dipaparkan Ketua PRM Pondok Labu, Jakarta Selatan
itu dalam kajian rutin yang dilaksamakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ngawi,
Ahad malam (5/9/2021). (Klikmu.co).
Prof Din menjelaskan, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab penting untuk
memberikan arah perjalanan bangsa, di antaranya melalui politik etik. Dengan begitu
akan terbangun peradaban. Kepemimpinan di Muhammadiyah tidak sekadar sebagai
leader, tetapi juga manajer untuk memajukan berbagai lini dakwah sehingga
“gila” kerja dan ide. “Model Kepemimpinan di Muhammadiyah hendaknya juga luas
dan memiliki keilmuan yang luas, luwes dan bijak dalam memimpin serta tegas
untuk menegakkan hukum dan keadilan.
Terkait dengan Islam washatiyah atau tengahan, Prof Din menjelaskan
tujuh konsep. Pertama, tawassut, yaitu berada di jalur tengah. Kedua i’tidal
yang bermakna berlaku adil. Ketiga, tasamuh memiliki arti menghormati perbedaan atau toleransi.
Keempat, syura alias bermusyawarah. Islam tengahan juga punya konsep kelima, yaitu,
islah. Tujuannya untuk konstruktif kebaikan bersama. Lalu keenam, ada kepeloporan
dalam perjuangan. Ketujuh, muwatonah, mengakui dan menghormati kewarganegaraan,
Ke depan menurut Haedar
kepemimpinan Muhammadiyah terpilih akan menjalankan program yang arahnya lebih
transformatif baik untuk program secara umum maupun bidang-bidang yang arahnya
pada unggul berkemajuan terhadap segala aspek. Pimpinan akan mensosialisasikan
dan menjadikan pandangan Islam berkemajuan dalam Risalah Islam berkemajuan yang
telah ditetapkan untuk mendialogkan kepada berbagai kalangan di dalam dan luar
negeri agar menjadi alam pikiran yang semakin luas dan terintegrasi dengan baik
di persyarikatan ini. Selain itu, PP Muhammadiyah juga memiliki mandat untuk
terus mendiskusikan mengenai isu-isu strategis keumatan, kebangsaan, dan
kemanusiaan universal dan menjadi masukan penting di berbagai bidang.
Haedar juga menyampaikan
bahwa kepemimpinan Muhammadiyah ini satu mata rantai terstruktur dengan PWM, PDM,
PCM, dan PRM, maka kepemimpinan Muhammadiyah
harus mampu memobilisasi seluruh gerak kepemimpinan secara nasional yang
setelah muktamar ini akan diikuti oleh seluruh musyawarah baik ranting, cabang,
daerah, dan wilayah. Itu memberi peluang untuk bersama-sama secara nasional menjalankan
program. (MUHAMMADIYAH.OR.ID,
YOGYAKARTA).
Dalam kehidupan rumah tangga, relasi
antara suami dengan istri harus moderat, atau dalam perspektif Muhammadiyah dan
‘Aisyiyah kepemimpinan keluarga harus kolektif kolegial. Dalam relasi keluarga yang kolektif kolegial, di dalamnya
tidak menganggap satu lebih unggul ketimbang yang lain, serta dalam pemilihan
keputusan lebih mengedepankan rembugan dan diskusi bersama. Tidak ada pihak
yang mendominasi dalam pengambilan keputusan, suami maupun istri berperan
secara moderat-tengahan. (MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURAKARTA).
Menurut Siti Syamsyiatun, kepemimpinan itu terdistribusi seperti yang
dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun an
ra’iyyatihi” yang artinya setiap dari kalian adalah pemimpin, dan tia-tiap
pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya. Hadist ini sebagai pijakan termasuk dalam rumah tangga, berkaca dari itu
maka dalam rumah tangga tidak ada one man show karena baik suami maupun istri
memiliki kekurangan dan kelebihan. Apa yang terjadi di Muhammadiyah kepemimpinan kolektif kolegial mestinya
juga diterapkan dalam rumah tangga,” (tutur Syamsyiatun saat diwawancara
reporter muhammadiyah.or.id pada (4/2).
Bahkan, kata Syamsiyatun, pengambilan keputusan dalam rumah tangga bukan
hanya melibatkan suami dan istri, tapi juga melibatkan anak sebagai team work.
Karena masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan, maka dalam pengambilan
keputusan bisa dilakukan oleh ketiga unsur tersebut dengan mengedepankan
musyawarah.
Misalnya soal pemilihan tempat rekreasi, anak-anak
lebih mengetahui bagaimana cara order, mencari dan lain sebagainya,” imbuh
Ketua Lembaga Penelitian Pengembangan PP ‘Aisyiyah (LPPA).
Menurutnya sebagai tim,
keluarga akan relatif lebih mudah dalam menghadapai dan menyelesaikan masalah
ketika suami misalnya sebagai satu-satunya pihak yang mencari nafkah tergangu,
maka istri dengan kreatiftitasnya bisa membantu untuk memutar kembali roda
ekonomi keluarga. Termasuk peran domestik yang selama ini biasa dilakukan oleh
istri, suami juga bisa membantunya. Misalnya istri sedang ada pertemuan atau
agenda dengan ‘Aisyiyah, maka suami bisa mengerjakan pekerjaan
domestik yang biasa dilakukan oleh istri.
Ketua Pimpinan Pusat (PP)
Muhammadiyah Anwar Abbas berpendapat Muktamar ke-48 Muhammadiyah pada 18-20
November 2022 harus mampu menghasilkan kepemimpinan bercorak kolektif kolegial.
Corak kepemimpinan Muhammadiyah masa
depan, selain mementingkan kompetensi dan integritas, juga harus benar-benar
bisa mendukung bagi terbentuk dan tegaknya sebuah kepemimpinan kolektif
kolegial di mana segala masalah dihadapi secara bersama-sama dengan musyawarah
mufakat, ( Jakarta, Senin 31/10/2022).
Dengan corak kepemimpinan seperti itu,
Muhammadiyah akan mampu berkontribusi bagi bangsa dan negara Indonesia dalam
mengatasi berbagai tantangan yang semakin berat. Tantangan tersebut, di
antaranya berkaitan dengan desakan perubahan akibat kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi, perubahan dalam konstelasi politik dunia, serta potensi
terjadinya pergeseran pusat peradaban dan kemajuan dari Barat ke Asia Timur dan
Asia Selatan yang di dalamnya termasuk Indonesia. Berikutnya, ada pula
persoalan mengenai dunia yang diperkirakan akan dilanda resesi pada
2023. Negeri ini tentu saja akan sulit melepaskan diri dari dampak
(resesi) karena ekonomi kita dan juga negara-negara lain telah terintegrasi
sedemikian rupa ke dalam ekonomi dunia sehingga apabila di suatu negara ada
masalah, maka dia dengan sendirinya juga akan berpengaruh kepada negara lain,
termasuk negara Indonesia,
Kepemimpinan yang kompeten,
berintegritas, dan bercorak kolektif kolegial juga akan mampu mendorong roda
organisasi Muhammadiyah berputar lebih cepat, sehingga kemajuan organisasi itu
juga dapat dipercepat. Selanjutnya, Anwar menilai pula para peserta Muktamar
ke-48 Muhammadiyah harus memikirkan hal-hal yang perlu dilakukan jajaran
kepengurusan PP Muhammadiyah untuk masa lima tahun ke depan dalam membantu
bangsa dan negara Indonesia menghadapi beragam tantangan yang ada. Apabila
hal-hal ini bisa terjadi, kontribusi Muhammadiyah bagi kemajuan umat, bangsa,
dan negara dalam berbagai aspek serta dimensinya tentu akan bisa didorong
dengan lebih baik dan lebih besar lagi. (REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA).
.Landasan
Pokok Kepemimpinan Muhammadiyah :
Islam mengandung tiga komponen pokok yang terstruktur dan tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya, yaitu :
Aqidah atau Iman : Keyakinan adanya Allah dan Rasul Nya dipilih untuk menyampaikan risalahnya kepada ummat melalui Malaikat yang dituangkan dalam kitab suci. Keyakinan mendorong seseorang pimpinan Muhammadiyah untuk konsisten dan berpegang teguh menyerahkan segenap hidupnya kepada Allah Maha Pencipta. Dengan demikian aqidah akan selalu menuntun perilaku pimpinan secara kolektif kolegial agar berbuat baik sesama, apalagi dalam kegiatan sehari-hari di Muhammadiyah. Aqidah yang tertanam dalam jiwa pimpinan akan senantiasa menghadirkan dirinya dalam pengawasan Allah SWT. Keyakinan aqidah ini akan berimplikasi membentuk pribadi pimpinan Muhammadiyah : 1. Menumbuhkan jiwa merdeka bagi pimpinan dalam pergaulan hidup, tidak ada manusia yang menjajah manusia lain, termasuk dirinya sendiri dan tidak akan menjajah orang lain. 2. Menjadikan pimpinan memiliki keberanian untuk berbuat, karena tidak ada baginya yang ditakuti selain Allah. Ia akan selalu bicara kebenaran, selalu lurus dan konsisten perilakunya. 3. Membentuk rasa optimis menjalani kehidupan, karena tauhid menjamin hasil yang terbaik yang akan dicapainya secara rohaniah, karena itu pimpinan tidak pernah gelisah dan putus asa..
Syariah : Aturan Allah tentang pelaksanaan penyerahan diri secara total melalui proses ibadah dalam hubungan sesama makhluk. Secara garis besar, syariah meliputi dua hal pokok yaitu ibadah dalam arti khusus atau ibadah mahdhah, yang pelaksanaannya dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dan ibadah ghairu mahdhah, yang pelaksanaannya tidak seluruhnya dicontohkan Rasulullah SAW seperti hubungan ekonomi, politik, hukum, hubungan antar manusia dan lain-lain. Kepemimpinan Muhammadiyah termasuk dalam hubungan antara pimpinan dengan pimpinan, organisasi dan dengan anggotanya.
Akhlaq : Kata akhlaq berarti perangai, tabiat dan adat. Ini merupakan sistem perilaku yang dibuat. Kata akhlaq selalu berkonotasi positif, orang yang baik seringkali disebut orang yang berakhlaq, sementara orang yang tidak berbuat baik disebut orang tidak berakhlaq. Akhlaq juga artinya pelaksanaan ibadah kepada Allah dan bermuamalah dengan. Ruang lingkup akhlaq mencakup hal-hal sebagai berikut : 1. Hubungan manusia dengan Allah, mentauhidkan Allah, menghindari syirik, bertaqwa, memohon pertolongan kepada Nya, berdoa dan berzikir. Pada saat sekarang banyak orang beragama, tetapi lupa Tuhannya. 2. Pola hubungan manusia dengan Rasulullah, menegakkan sunnah. 3. Pola hubungan manusia dengan dirinya sendiri, seperti menjaga kesucian diri, tidak mengumbar hawa nafsu, selalu menyampaikan kebenaran, memberantas kedzaliman, kebodohan dan sebagainya. 4. Pola hubungan dengan keluarga, berbakti kepada kedua orang tua, tutur kata yang baik dan sebagainya. 5. Ihsan, saling menghormati dan sebagainya. 6. Pola hubungan manusia dengan alam, seperti menjaga kelestarian alam, tidak serakah, merusak bumi, menebang hutan dan sebagainya.
Tugas
Kepemimpinan Muhammadiyah :
1. Kepemimpinan sebagai amanat : Pimpinan dengan potensi yang dimilikinya telah dipilih, ditunjuk dan diangkat dengan suatu keputusan musyawarah mufakat, mendapat mandat untuk memimpin Muhammadiyah. Mandat kepemimpinan ini digambarkan Allah dalam Al-Quran surat Al-Ahzab (33) ayat (72) :
072.
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan
gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka
khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,
Tugas kepemimpinan itu tidak dilepas
begitu saja tanpa diberikan kewenangan-kewenangan untuk mengelola Muhammadiyah.
Ini berarti untuk kelancaran tugas tersebut, telah disiapkan sarana dan
prasarana yang lengkap secara bertahap. Sebagai imbangannya tugas kepemimpinan
bukan tugas tanpa pertanggungjawaban. Karena itu tugas ini berkelanjutan dan
berkesinambungan dari pimpinan satu ke pimpinan berikutnya secara konsisten
melanjutkan program persyarikatan yang sama, mulai dari programming, actuating
sampai controlling, mulai dari menata, merawat, memanfaatkan, dan melestarikan.
Keseluruhan tugas-tugas tersebut diarahkan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan
ummat khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.
2. Amanat
mengembangkan IPTEK : Surat al-alaq ayat 1-5
merupakan surat pencerahan dan pemberdayaan ummat. Surat ini turun dalam era
kejumudan bangsa Arab yang terkenal
dengan predikat jahiliyyah. Melalui pencerahan iqra dalam arti yang lebih
luas, membaca, menelaah, mengkaji, dan meneliti bisa berubah menjadi bangsa yang
berperadaban dan berkeadilan. Perintah ini adalah perintah membaca. Sebuah
perintah yang merupakan kata kunci untuk mencapai informasi dan sebuah perintah
yang menuntut usaha pengembangan lewat suatu sistem yang terdokumentasi, dan
disimbolisasikan dengan kata al-qalam yang berarti alat tulis menulis,
seperti komputer dan lain-lain.
3. Amanat
pemberdayaan ummat : Al-Quran adalah kitab
petunjuk (hudan), bagi siapa saja yang memanfaatkannya, baik muslim (hudan lil
muttaqin) maupun manusia (hudan lin nas) secara umum. Al-Quran memiliki tujuan
praktis bagi pembentukan atau pembinaan manusia yang baik dan adil secara
moral. Manusia tipe ini harus yang shaleh, baik shaleh ritual maupun shaleh sosial
yang memiliki kesadaran tajam dan kuat
tentang refleksi doktrin dan pengakuan terhadap “ La ilaha illa Allah”,
Tidak ada Tuhan selain ALLAH. Refleksi kesadaran itu harus melahirkan
komitmen untuk mengomandokan yang haq dan mendiskomandokan yang batil. Tugas
ini dalam bahasa al-Quran disebut ‘amar ma’ruf nahyi munkar’.
4. Meneladani
sifat-sifat Allah : Beragama berarti sikap
seseorang dalam merespons aturan-aturan yang telah digariskan, atau sebagai
upaya mencontoh, meneladani sifat-sifat Allah sesuai kemampuan manusia. Jadi,
seseorang tidak bisa disebut beragama apabila tidak berupaya meneladani
sifat-sifat Allah. Ada kata Allah, Rabb, dan Ilaah. Semua itu diterjemahkan
dalam bahasa Indonesia sebagai Tuhan. Al-Quran menjelaskan Tuhan dengan tidak
menyinggung zat, karena penjelasan Tuhan dari dimensi dzat tidak akan
terjangkau oleh pikiran manusia. Itu sebabnya al-Quran menjelaskan Tuhan dari
dimensi sifat, karena dimensi sifat berbicara fungsional seperti al-Khaliq
(Maha Pencipta), al-Alim (Maha Mengetahui), al-Malik (Yang Maha Raja), al-Qadir
(Maha Kuasa) dan lain-lain. Meneladani sifat Allah sebagai Khaliq misalnya,
berarti bahwa manusia dalam menjalankan tugas kepemimpinan harus kreatif.
Nikmat potensial berupa akal sehat itu harus digunakan secara optimal dengan
mengembangkan budaya nalar, kreatif, budaya tafakkur, dan tadabbur. Meneladani
sifat Allah ini menggambarkan bahwa pimpinan Muhammadiyah dituntut menjadi
manusia kreatif, inovatif, dan partisipatif.
5. Sifat-Sifat Kenabian dalam Konteks Manajemen Diri Pimpinan : Nabi Muhammad SAW disamping menerima mukjizat sebagai bukti kerasulan dan kenabian, juga dilengkapi sifat-sifat kenabian Siddiq,Amanah, Tabligh, dan Fathanah.
Si Sifat shiddiq berarti benar atau terpercaya. Pimpinan yang benar dan terpercaya akan bersikap amanah. Pimpinan yang amanah akan dipercaya oleh sesame pimpinan dan para anggotanya, dan akan mudah menjalani hubungan persahabatan dengan siapapun. Karena itu, tidak akan ada pergaulan bila tidak ada kejujuran dan tidak akan ada kejujuran bila pimpinan tidak berpegang pada amanah.
Kata
amanah berkorelasi dengan kata aman dan iman.
Ini berarti secara konsep pimpinan yang
diberi amanah harus menjamin amanah yang dibebankan kepadanya menjadi aman.
Jika pimpinan berlaku sebaliknya terhadap amanah, berarti iman yang bersangkutan
belum imun (kebal). Amanah sering pula dipahami sebagai kejujuran, karena orang
yang jujur akan memegang dan menjalani amanah dengan baik. Meskipun demikian
amanah bukan berarti sekedar jujur atau kejujuran, tetapi juga
pertanggungjawaban atas misi yang diemban. Jujur bukan berarti jalan di tempat,
melainkan harus bervisi ke depan, berkaitan dengan marketable dan bernilai jual
tinggi. Karena akuntabilitas pada dasarnya pertanggungjawaban atas nikmat
dengan pembuktian rasa syukur yang benar, baik bersyukur pada tatanan
horizontal maupun pada tatanan vertical. Bersyukur sendiri harus meliputi
dimensi lisan, kalbu, dan aksi. Jadi, amanah berarti pula menjalankan tugas
secara professional dan proporsional. Bekerja asal-asalan adalah tanda tidak
amanah dan yang tidak amanah akan merusak persahabatan.
Sifat
tabligh yang berarti menyampaikan. Apa yang
disampaikan adalah amanat (misi kerasulan). Menyampaikan pesan ilahi tentu
membutuhkan sistem dan jaringan serta alat-alat komunikasi seperti, kendaraan,
telpon, internet, twitter, facebook, televisi, radio dan lain-lain. Ini berarti
pula kebenaran tidak boleh disembunyikan, perlu ekspos. Dan penyampai pesan
harus menguasai medan dan memahami culture audience agar pesan yang
ingin digagas dapat ditangkap sepenuhnya oleh pendengar dan pemirsa. Tabligh
juga berarti transparansi dan dialogis, karena monolog akan sangat cepat
melahirkan kejenuhan. Dalam konsep komunikasi, sebuah pesan baru dianggap
komunikatif bila ada respons timbal balik.
Sifat
fathanah berarti cerdik dan strategik. Sifat ini
berkaitan dengan kualitas SDM. Setiap orang secara potensial dibekali
potensi-potensi yang kuat. Secara aktual harus dikembangkan, dibina, dan
dididik, maka manusia tidak boleh berhenti mengikuti program pembelajaran.
Kecerdikan adalah keunggulan yang berkaitan dengan produktivitas. Bahwa
kebangkrutan bangsa dan negara serta kejatuhan pimpinannya adalah akibat sumber
daya manusia yang tidak mengikuti dan mengamalkan sifat-sifat kenabian.
Sifat-sifat kenabian di atas bukan untuk dihafal, melainkan untuk menjadi
teladan dalam mengelola amanat, kedudukan, dan tugas-tugas kepemimpinan Muhammadiyah.
Untuk itu dibutuhkan suatu perencanaan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual
yang tinggi dan dapat menjadi bekal pimpinan atau calon pimpinan Muhammadiyah..
Kepemimpinan
Muhammadiyah Masa Kini dan Masa Depan
Akhir abad sekarang membawa simbol
khusus. Kita hidup pada satu sejarah perputaran era teknologi. Lebih dua dekade
yang lalu revolusi informasi menghasilkan komputer dan softwair, juga internet.
Umat manusia menjadi benar-benar dihubungkan dan hidup menjadi tidak sama.
Revolusi ini mempunyai cabang-cabang substansi dalam sistem sosial. Melalui superleadership
seseorang dapat mempengaruhi orang lain. Revolusi teknologi akan mengubah
sifat kepemimpinan yang pengaruhnya sangat luas. Saat ini kita sedang berada di
tengah perubahan sosial dimana teknologi mentranformasi bisnis, struktur
keluarga, sekolah, pemerintahan, dan bahkan persyarikatan Muhammadiyah.Sesungguhnya
kita menghadapi arena yang penuh tantangan untuk mencoba leadership pada abad
ke 21, yang menekankan pemberdayaan orang lain yang disebut sebagai superleadership
yaitu memimpin orang lain untuk memimpin dirinya sendiri.
Perkembangan revolusi informasi menyebabkan terjadinya destruktif organisasi. Oleh karena itu hirarki tidak lagi dibutuhkan dan mempermudah gerakan informasi yang diperlukan untuk tugas integrasi. Bahkan antar dan intern organisasi sekarang dapat berkomunikasi langsung dengan gerakan yang lebih cepat, fleksibel dan efektif. Hal ini memerlukan kemampuan dan pengetahuan untuk mengatur kebutuhan informasi dengan cepat. Aset organisasi yang benar tidak lagi berbentuk fisik bangunan, tetapi pengetahuan yang diinvestasikan oleh modal sumber daya manusianya. Bagaimana cara memimpin para pimpinan dan anggotanya yang berpengetahuan ini, tentu pimpinan harus memiliki kiat-kiat sebagai berikut : 1. Perlu meyakini bahwa kontrol yang paling utama adalah datang dari dalam esensi diri leadership. 2. Perlu mengoptimalkan potensi sumber daya manusia dengan tidak mengabaikan self-leadership dari dalam.
3. Pimpinan yang paling
efektif pada era globalisasi ini akan menjadi seorang superleadership,
seseorang yang memimpin orang lain untuk
memimpin diri sendiri di era transformasi, sebagaimana firman Allah SWT dalam
surah al-Isra (17) ayat ( 15) :
015. Barangsiapa yang berbuat sesuai
dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan)
dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi
(kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa
orang lain, dan Kami tidak akan meng`adzab sebelum Kami mengutus seorang Rasul.
Pertimbangan strategi bagi seorang superleader adalah :1. Lebih banyak mendengar, sedikit berbicara. 2. Lebih banyak bertanya, sedikit memberi jawaban. 3. Membantu belajar dari kesalahan, tidak takut konsekuensi. 4. Memberikan pemecahan masalah dengan orang lain, dari pada menyelesaikan masalah untuk orang lain. 5. Berbagi informasi dari pada menyimpannya. 6. Memberikan kreativitas bukan memberikan persesuaian. 7. Membentuk teamwork dan kolaborasi bukan kompetisi destruktif. 8. Membantu ketidaktergantungan dan saling ketidaktergantungan bukan ketergantungan. 9. Mengembangkan komitmen self-leader, bukan pengikut yang tunduk. 10. Memimpin orang lain untuk memimpin dirinya sendiri, bukan di bawah kontrol orang lain. 11. Membangun struktur organisasi yang mendukung self-leadership, seperti team self-managing, team virtual, dan team yang berjarak. 12. Membangun sistem informasi melalui intranet dan internet, yang mendukung self-leadership. 13. Membangun budaya self-leading di seluruh satuan persyarikatan.
Revolusi teknologi menyebabkan perubahan cara Muhammadiyah menyusun dirinya sendiri. Perubahan struktur dan kultur Muhammadiyah membutuhkan perubahan budaya yang lebih radikal, yaitu sistem sosial yang ada dalam lembaga tersebut. Esensi perubahan budaya ini merupakan investasi dan menekankan pada pengetahuan kerja, yaitu proses orang-orang dan transformasi informasi. Budaya yang muncul ini menempatkan nilai pada mentorsip, pembelajaran, inisiatif dan kreativitas. Agar benar-benar efektif, pekerja pengetahuan perlu diberdayakan pada level yang sudah maju. Modal dasar manusia yang cakap dan terdidik akan menjadi unsur utama keberhasilan Muhammadiyah. Orang perlu mampu memimpin dirinya sendiri. Orang yang berilmu dijanjikan oleh Allah SWT tempat yang mulia, sebagaimana tercantum dalam al-Quran surah al-Mujadalah (58) ayat (11) :
011. Hai orang-orang yang beriman, apabila
dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka
lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila
dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Lebih lanjut dikatakan, bahwa
self-leadership adalah perluasan strategi yang difokuskan pada perilaku, pola
pikir dan perasaan yang digunakan untuk mempengaruhi atas diri sendiri. Juga
apa yang orang lakukan untuk memimpin diri mereka sendiri. Yang berarti bahwa
setiap orang adalah pemimpin yang akan
mempertanggungjawabkan
kepemimpinannya. (HR. Bukhari Muslim).
Mengembangkan setiap orang menjadi
self-leadership yang efektif adalah tantangan yang menarik dan berat bagi persyarikatan
Muhammadiyah. Pemimpin yang melakukan ini disebut superleader, suatu istilah
yang digunakan manajer dan eksekutif yang bertanggung jawab memimpin orang
lain, khususnya anggota Muhammadiyah. Superleader mendesain dan meletakkan sistem
yang diikuti dan mengajarkan anggota untuk menjadi self-leader. Pendekatan
tersebut, terdiri dari perluasan perangkat perilaku, yang semuanya dimaksudkan
untuk menjadikan anggota mempunyai kemampuan perilaku dan kognitif yang penting
untuk melatih self-leadership. Sifat Rasulullah SAW selalu memberikan inspirasi
bagi umatnya sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Ahzab (33) ayat (21) :
021. Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Self- leadership tersebut, merupakan langkah awal yang penting untuk memahami superleadership. Secara khusus akan memusatkan perhatian pada ketera mpilan yang membentuk dasar superleadership. Sebagaimana tersebut di atas, bahwa superleadership adalah memimpin orang lain untuk memimpin dirinya sendiri. Gagasan ini bersumber pada pandangan bahwa esensi semua kontrol atas anggota adalah teristimewa pada daya diri. Dengan mengabaikan dari mana datangnya kontrol, apakah dari pimpinan atau kebijakan persyarikatan, akibatnya bergantung pada bagaimana kontrol ini dievaluasi, diterima dan diterjemahkan oleh setiap anggota ke dalam komitmen pribadinya. Pimpinan harus menjadi tokoh bagi orang yang dipimpin, dan semua itu terpancar dari dirinya. Kemampuan self-leadership inilah sebagai kunci kepemimpinan masa kini dan masa depan. A-Quran surah al-Ankabut (29) ayat (6) menyebutkan :
006. Dan barangsiapa yang berjihad, maka
sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar
Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu)
dari semesta alam.
Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa kepemimpinan Muhammadiyah masa
kini dan masa depan, merupakan
pengembangan strategi pimpinan sebagai
superleader yang difokuskan pada perilaku, pola pikir dan perasaan yang
digunakan untuk mempengaruhi diri sendiri, juga
para pimpinan dan para anggotanya
untuk memimpin diri mereka sendiri (self-leader), dan harus memiliki
kompetensi yuridis dan non yuridis yang masing-masing akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Atas
dasar beberapa uraian di atas, maka kepemimpinan kolektif kolegial Muhammadiyah
berkeadilan dan berkemajuan akan terwujud.
Wallahu
A’lamu Bishshawab.
DAFTAR
PUSTAKA
Aziz
Fakhrurrazi, Prof.Dr.H.MA dan Erta Mahyudin, Lc,SS,M.Pd.I, Fiqih Manajerial Aplikasi Nilai-Nilai Ibadah Dalam
Kehidupan, Pustaka Al-Mawardi, Cetakan Pertama, Agustus 2010, Jakarta,
2010.
Buchari
Alma, Prof.Dr.H, dan Donni Juni Priansa, S.Pd, Manajemen Bisnis Syariah, Alfabeta,
Bandung, 2009.
Mahkamah
Agung RI, Cetak Biru Pembaruan Peradilan 2010-2035, 2010.
Peter
Mahmud Marzuki, Prof.Dr.SH.MS,LL.M, Penelitian Hukum, Kencana
Prenada Media Group, Jakarta, 2010.
Veithzal
Rivai, Prof.Dr.M.B.A dan Deddy Mulyadi, Prof.Dr.M.Si, Kepemimpinan dan
Perilaku Organisasi, Edisi Ketiga, PT RAJAGRAFINDO PERSADA, Jakarta,
2010.
Yayasan
Penyelenggara Penerjemah Al-Quran Disempurnakan Oleh Lajnah Pentashih Mushaf
Al-Quran, AL-‘ALIM AL-QURAN DAN TERJEMAHANNYA, Edisi Ilmu Pengetahuan,
PT Mizan Pustaka, Bandung, 2009.
Klikmu.co
MUHAMMADIYAH.OR.ID,
SURAKARTA
MUHAMMADIYAH.OR.ID,
YOGYAKARTA
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA
0 comments:
Posting Komentar