Ahmad Agus Bahauddin
Ingatlah wahai
koruptor, bahwa kematian merupakan rahasia Allah SWT melalui Malaikat Izrail
yang kadang-kadang penampilannya seperti gembel, seorang yang ramah, terkadang
bengis, lemah lembut dan rupa-rupa yang lain. Perhatikan wahai koruptor bahwa
manusia di dunia ini dibagi menjadi dua
jenis manusia, pertama, manusia yang hanya semata-mata melihat kenikmatan dunia,
mengharapkan perpanjangan usianya, kedua, manusia bijak yang selalu memikirkan
tempat kembalinya setelah berakhir dari dunia menuju alam kubur. Manusia jenis
kedua ini berfikir bagaimana dapat berhasil lolos dari dunia, sedangkan
keimanannya selamat ketika masuk alam kubur, bekal apa yang dibawa nanti ke alam
kubur, dosa apa yang ditinggalkan kepada musuh-musuhnya, apakah meninggalkan
dendam. Inilah yang seharusnya dipikirkan oleh makhluk, dan lebih wajib lagi
penguasa dan penghuni dunia karena mengusik hati rakyat, mengirim pasukan untuk
mengancam, menakut-nakuti, dan membuat was-was hati rakyat, maka sesungguhnya
di sisi Allah ada Izrail yang setiap orang tidak akan bisa lolos dari
pencariannya.
Bila pasukan raja bisa disogok-sogok
dengan emas, perak, dan uang namun Izrail tidak bisa disogok dengan apapun
karena Izrail tidak butuh kekayaan bersifat materi, yang Izrail cari hanyalah
ruh manusia karena perintah Allah SWT. Setiap pasukan raja bisa mengasihani,
mendzalimi, menyengsarakan, dan menindas rakyatnya, bisa saja para pejabat
negara mengeruk kekayaan negara, merampok harta rakyat, yang menurut Mahfudz
MD, bahwa korupsi di era reformasi semakin parah merajalela di semua lini, lembaga-lembaga
negara, pemerintahan, dan partai-partai besar. Namun tidak ada yang bisa lepas
ketika Izrail sudah datang mencabut nyawa manusia.
Apakah
koruptor ingat ketika melakukan korupsi akan kematian yang datangnya
sekonyong-konyong tanpa pemberitahuan sebelumnya, maka setiap orang seharusnya
menyiapkan diri insaf di setiap waktu kapanpun Izrail dating, sebagaimana kisah
di bawah ini. Pasukan raja bisa mengulur waktu sehari, satu malam atau satu jam
untuk menghukum seseorang, sedangkan Izrail sebaliknya tidak menunda-nunda
tugasnya. Begitu banyak kisah-kisah tentang Malaikat Izrail di antaranya kisah
Wahb bin Munabbih.
Wahb bin Munabbih adalah salah seorang
pendeta Yahudi yang telah masuk Islam. Tatkala menjadi raja, Wahb berjalan
bersama keluarga dan pasukannya, memperlihatkan kekayaan, kemegahan
kerajaannya, berbaris rapi agar rakyat melihat kekuasaannya. Wahb memerintahkan
prajuritnya agar memakai baju kemegahan, kuda yang paling bagus, prajurit
militant yang mengendarai armadanya, sang raja memakai kalung yang terbuat dari
permata, Wahb menginjak kuda dan menarik pelananya, berlagak sombong, padahal
hanya Allah SWT yang paling berhak takabbur dan sombong sebagai Tuhan yang Maha
Agung, Maha Besar, yang tidak bisa diteladani makhluknya.
Di tengah-tengah kesombongannya Iblispun
datang meletakkan mulutnya di hidung raja itu, meniupkan kesombongan pada
hidungnya, hingga ia mengatakan siapa yang lebih alim dariku. Maka jadilah ia
berlomba-lomba dalam kesombongan, ia tidak bisa melihat mata hatinya,
pendengaran dan matanya seorangpun karena kesombongan dan hartanyanya menutup
mata batinnya. Bukankah pendengaran, penglihatan, dan mata hatinya kelak akan
dipertanggung jawaban di hadapan Allah SWT di kemudian hari kelak. Kemudian
berdirilah di hadapannya seorang yang memakai baju gembel mengucap salam
kepadanya, namun ia tidak menjawabnya, padahal itu Izrail pencabut nyawa.
Kemudian Izrail memegang tali pelana kuda
sang raja, lalu sang raja berkata dengan sombongnya, singkirkanlah tanganmu
dari kudaku, kamu tidak mengetahui berapa harga pelana yang kamu pegang itu.
Orang tersebut yang ternyata Malaikat Izrail yang menyamar menjadi gembel, karena
kesombongannya mata raja tertutup keduniaan tidak mengetahui bahwa itu Izrail sambil
berkata, Saya ada perlu denganmu wahai raja. Kemudian sang raja berkata, tunggu
sampai aku turun dari kudaku. Lalu Izrail berkata, keperluanku sekarang, bukan
nanti dengan nada geram. Sang raja bertanya, sebutkan hajatmu. Izrail menjawab,
sesungguhnya itu rahasia, aku akan bisikan kepadamu. Kemudian sang raja
menjulurkan telinganya, maka Izrail berkata,
Aku ingin mencabut nyawamu. Seketika itu sang raja memohon, tundalah sampai aku
pulang ke rumah mengantarkan istri dan anakku. Izrail itu berkata lagi,
sekali-kali tidak, karena umurmu telah usai. Malaikat Izrailpun segera mencabut
nyawanya dalam keadaan sombong. Inilah yang seharusnya dikhawatirkan Koruptor,
na’udzubillah min dzalik
Di tempat yang berbeda, suatu hari
Malaikat Izrail mendatangi seorang pria shaleh dan Allah telah ridha padanya.
Sang Malaikat mengucap salam kepada pria shaleh itu, kemudian berkata, Aku
mempunyai hajat kepadamu, pria shaleh itu menjawab, sebutlah hajatmu, lalu pria
itu menjawab, hajatku sangatlah rahasia, saya akan membisikkan kupingmu. Pria
shaleh itu menjulurkan kupingnya, lalu berkata : Aku hendak mencabut nyawamu.
Pria itu senang dan berkata : Selamat datang Izrail, aku sudah lama menunggumu,
sudah lama aku menantimu, aku telah rindu dengan kedatanganmu.
Malaikat maut berkata, jika kamu
punya hajat selain hajatku kata Izrail, maka selesaikanlah dahulu. Pria shaleh
itu menjawab, aku tidak memiliki hajat yang lebih penting dari pada hajatmu,
Malaikat maut dengan nada bertanya, cara apa yang kamu inginkan untuk mencabut
nyawamu. Pria shaleh itu mengatakan, setelah aku berwudhu, shalat hingga aku
bersujud maka cabutlah nyawaku, Malaikat mautpun melakukannya.
Wallahu
A’lam Bishshawab.
0 comments:
Posting Komentar