REFLEKSI
Walaupun rakyat Indonesia tidak pernah bertemu langsung dengannya, ia mendapat simpati karena menjadi sumber inspirasi. Usamah mampu melawan kekuatan raksasa, seperti cerita Nabi Daud melawan Goliath. Ia adalah simbol perlawanan tirani. Figur Usamah bin Ladin itu memberi sinyal kepada kita bahwa rakyat ini tidak mempunyai pemimpin.Yang ditunjukkan dengan betapa besar kecintaan rakyat tehadap suatu entitas asing untuk dijadikan pahlawannya.
Rakyat tidak punya leader figur panutan, atau tokoh yang layak diidolakan. Pemimpin bukanlah jabatan presiden atau menteri. Pemimpin sejatinya ada di sekitar kita dan senyatanya langsung dikenali begitu rakyat melihatnya. Kejayaan Julius Caesar tidak lain karena kepemimpinannya turut menghunus pedang bertaruh nyawa bersama para prajuritnya. Bahkan pernah dikisahkan ia merelakan tenda peristirahatannya sendiri untuk untuk digunakan merawat prajuritnya yang terluka. Dia bukan raja yang duduk di meja besar mengatur strategi.
Kecintaan kepada pemimpin seperti itu dahulu pernah dimiliki bangsa kita saat memerangi penjajah. Sejarah pernah mencatat sumbangan spontan rakyat aceh kepada NKRI berupa uang, perhiasan emas, serta harta benda untuk membeli dua buah pesawat terbang, Seulawah RI. Sumbangan tersebut diberikan dengan sukarela sebagai tanda betapa besar ketulusan rakyat ketika itu. Kecintaan itu pernah hadir karena ada contoh, panutan, kedekatan, dan kepercayaan. Percaya bila para pemimpinnya tidak akan menggiring mereka ke sebuah paham semu. Percaya bila perang yang mereka perjuangkan akan dapat mengubah nasib anak cucu dan keturunan mereka kelak nanti Percaya bila darahnya tercucur dan nyawanya hilang, itu adalah lebih baik daripada hidup di bawah penjajahan.. Tidak ada modal lain dasar perjuangan bangsa di seluruh dunia selain tekad baja, hati dan pikiranseorang leader yang mampu menggerakkan dengan hati nuraninya, bukan semata-mata dengan kekuasaan politik formal.
Sesungguhnya Allah tidak menarik kembali ilmu pengetahuan dengan jalan mencabutnya dari hati sanubari manusia, tetapi dengan jalan mematikan orang-orang yang berpengetahuan (Ulama), sehingga apabila tidak ada lagi orang-orang yang berpengetahuan, maka masyarakat terpaksa akan mengangkat orang-orang yang bodoh menjadi pemimpin sebagai tempat bertanya. Orang-orang bodoh itu akan memberikan fatwa tanpa dasar ilmu, mereka itu sesat, dan menyesatkan. (HR. Bukhari)
Wallahu A'lamu Bishshawab.
0 comments:
Posting Komentar