Selasa, 27 Juni 2023

HAKIKAT IBADAH HAJI

 

Ahmad Agus Bahauddin

          Allah swt memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar mengingatkan orang-orang musyrik Mekah yang menghalang-halangi kaum muslimin masuk ke kota Mekah, bahwa Ka’bah ini dibina oleh nenek moyang mereka Ibrahim dan putranya Ismail atas perintah Allah swt.

          Allah memerintahkan Ibrahim dan umatnya agar membersihkan Ka’bah dari perbuatan syirik dan najis, sehingga umat dapat melaksanakan ibadah haji di Ka’bah itu.

         Allah swt memerintah Ibrahim agar menyeru manusia melaksanakan ibadah haji ke Ka’bah yang telah dibinanya itu. Karena dengan ibadah haji tersebut mereka akan memperoleh manfaat yang banyak, berguna bagi kehidupan duniawi untuk mencapai kebahagiaan di akhirat nanti.

         Allah swt memerintahkan kepada Ibrahim agar menyeru manusia mengerjakan ibadah haji ke Baitullah dan menyampaikan kepada mereka bahwa ibadah haji itu termasuk ibadah yang diwajibkan bagi kaum muslimin.

          Para ulama mencoba melukiskan bentuk-bentuk manfaat yang mungkin diperoleh para haji, tentunya setelah mereka mengalami dan mempelajarinya, diantaranya :

1.   Melatih diri dengan kemampuan mengingat Allah swt secara khusyu’ pada hari-hari yang telah ditentukan dengan memurnikan kepatuhan dan ketundukan hanya kepada Allah saja.

2.   Menimbulkan rasa perdamaian dan persaudaraan di antara kaum muslimin.

3.   Mencoba mengalami dan membayangkan kehidupan di akhirat yang pada waktu itu tidak seorangpun dapat memberikan pertolongan kecuali Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Melalui wuquf di Arafah bagaikan hidup di Padang Mahsyar. Melempar jumrah di panas terik matahari di tengah padang pasir, itu semua menggambarkan saat-saat ketika manusia berdiri di hadapan Mahkamah Allah di akhirat.

4.   Menghilangkan rasa rendah diri yang berlebihan.

5.   Menghayati kehidupan dan perjuangan Nabi Ibrahim beserta putranya Nabi Ismail dan Nabi Muhammad beserta sahabatnya.

6.   Sebagai muktamar Islam seluruh dunia.

7.   Dari orang-orang yang telah mengerjakan haji diperoleh keterangan bahwa keinginan mereka menunaikan ibadah haji bertambah setelah mereka selesai menunaikan ibadah haji yang pertama.

8.   Rahasia dan manfaat ibadah haji dapat dipahamkan pula dari doa Nabi Ibrahim kepada Allah swt :

فاجعل أفئدة من الناس تهوى إليهم

       Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka. (QS 14 Ibrahim : 37).

9.   Agar manusia menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan, hari raya haji dan hari-hari tasyriq tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, serta melaksanakan kurban dengan menyebut nama Allah untuk menyembelih Binatang kurban itu. Rasulullah saw bersabda :

من ذبح قبل الصلاة فإنما ذبح لنفسه ومن ذبح بعدالصلاة فقد تم نسكه واصاب سنة المسلمين

          Barang siapa menyembelih kurban sebelum shalat Idul Adha, maka ia hanyalah menyembelih untuk dirinya sendiri, dan barang siapa menyembelih sesudah shalat Idul Adha, makai a telah menyempurnakan ibadahnya, serta telah melaksanakan sunnah kaum muslimin (HR. Bukhari)

Dan sabda Rasulullah saw :

 ايام التشريق كلها ذبح : Semua hari tasyriq adalah waktu dilakukannya penyembelihan kurban (HR. Ahmad dari Jubair bin Muthni).

         Setelah mengerjakan haji dan penyembelihan binatang kurban  hendaklah melakukan tiga hal :

1.   Menghilangkan dengki atau kotoran pada diri mereka dengan menggunting rambut, mengerat kuku, dan sebagainya. Hal ini diperintahkan karena dilarang melakukannya melakukannya selama melakukan ibadah haji. Perbuatan ini dinamakan tahallul.

2.   Melaksanakan nadzar yang pernah diikrarkan, karena pada waktu, tempat dan keadaan inilah yang paling  baik menyempurnakan nadzar.

3.   Melakukan tawaf ifadhah di Baitul Athiq yang merupakan salah satu rukun haji. Disebut Baitul Athiq yang berarti rumah tua, karena Baitullah adalah rumah ibadah pertama kali didirikan oleh Nabi Ibrahim beserta putranya Nabi Ismail AS, kemudian barulah didirikan Baitul Maqdis oleh Nabi Daud AS beserta Nabi Sulaiman AS. Itulah uraian dan penjelasan dari QS Hajj ayat 27-29 :

وأذن في الناس بالحج يأتوك رجالا وعلى كل ضامريأتين من كل فج عميق٠٢٧ليشهدوا منافع لهم ويذكر اسم الله في ايام معلومات على مارزقهم منبهيمة الانغام فكلومنها وأطعموالبائس الفقير٠٢٨ثم ليقضواتفثهم واليوفوانذورهم واليطوفوابالبيت العطيق٠٢٩

         Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh. (27). Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan sebagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan faqir (28). Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada di badan mereka, menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah)(29).

         Idul Adha atau disebut Idul Qurban ini dihadapkan pada suasana panas menjelang pilpres 2024, situasi politik, ekonomi, darurat korupsi, bahkan dekaensi moral, saling menghujat, mencaci, penjegalan Bacapres, dan lain-lain belum ada tanda-tanda reda. Semoga dalam waktu yang dekat semuanya diatasi dengan suasana damai. Ditambah munculnya isu ajaran Islam sesat dan pelecehan seksual oleh pimpinan pondok pesantren al-Zaitun yang sekarang masih dalam penyelidikan.

         Itu semua mengancam kerukunan ummat beragama, antar ras dan suku, mengancam persatuan dan kesatuan bangsa yang mengarah disintegrasi bangsa Indonesia.

         Kondisi semacam itu merupakan tantangan bagi kita khususnya ummat Islam untuk mencari solusinya melawan tantangan itu, dengan berdoa kepada Allah, kita kembalikan kepada-Nya semoga badai keprihatinan bangsa Indonesia cepat berlalu. Keprihatinan orang-orang yang beriman adalah cobaan, dan bagi mereka yang tidak beriman merupakan siksaan Allah swt.

         Bagi kaum muslimin Indonesia terhadap kondisi tersebut adalah panggilan untuk berkurban dalam pengertian yang luas, mencurahkan daya dan pikiran kita, amwal (harta), dan anfus (jiwa) yang diimplementasikan melalui jihad (berjuang) di jalan Allah swt. Sehingga jika berbicara soal panggilan Allah tidak saja dalam hal ibadah haji yang memenuhi panggilan Allah, tetapi juga dalam hal jihad sebagaimana firman Allah swt :

إنفرواخفافا وثقالا وجاهدوا بأموالكم وأنفسكم في سبيل الله ٬ ذالكم خيرلكم إن كنتم تعلمون

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

         Jihad di jalan Allah di sini bukan saja dalam pengertian perang secara fisik dengan memanggul senjata, tetapi mempunyai arti yang lebih luas, mengorbankan harta dan jiwannya guna memerangi keangkara murkaan, kemungkaran, kemiskinan, keterbelakangan dan lain-lain.

         Tidak seorangpun mempunyai alasan baik aqli maupun naqli untuk menolak anggapan bahwa ibadah haji adalah soal panggilan. Bukankah QS Al-Hajj : 27 di atas telah menyatakan agar Nabi Ibrahim memanggil umat manusia untuk menunaikan ibadah haji.

         Ibadah shalat wajib maupun ibadah-ibadah lainnya juga ditegakkan dengan panggilan lebih dahulu. Adzan adalah panggilan yang mendahului shalat. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa hanya ibadah haji saja yang diyakini sebagai berkaitan dengan soal panggilan. Ada kecenderungan orang untuk memandang amat berlebihan terhadap ibadah yang satu ini.

         Sebenarnya kemanapun manusia merencanakan pergi, termasuk menunaikan ibadah haji, factor kehendak Ilahy pun akan tetap terjadi. Demikian sebaliknya, secara tidak disengaja dan disangka sebelumnya orang dapat bepergian kemanapun.

         Allah tidak akan memilih-milih hamba-Nya untuk berbuat ibadah apapun kepada Allah swt. Semua orang mendapat peluang yang sama dan panggilan yang sama, termasuk panggilan untuk pergi haji, panggilan menegakkan shalat, dan sebagainya. Tinggal bagaimana tanggapan orang yang mendengar panggilan tersebut. Apakah dengan panggilan itu orang akan terpanggil segera memenuhi panggilan atau pura-pura mendengar kemudian tidak segera melaksanakannya atau bahkan semakin menjauhinya, padahal baginya telah terpenuhi syarat istito’ah.

         Faktor yang lebih pending dalam melaksanakan ibadah faktor betapa besar motivasi maupun tekad, yang lebih dikenal sebagai niyyat yang mendasari ibadah tersebut. Bukankah Nabi Muhammad saw telah mengatakan :

إنما الأعمال بالنيات

Segala perbuatan itu tergantung dari niatnya, dari tekadnya.

          Menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW sekitar tahun gajah ribuan tahun setelah Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahim, para kafir jahiliyah masih tetap taat melakukan tawaf dengan menegelilingi Ka’bah. Namun konon dilakukan dengan cara-cara yang membuat rishi. Ka’bah bukan lagi simbul ke Esaan Tuhan Allah, melainkan sebagai pantheon, tempat segala macam berhala, terutama al-manat, al-uzza, allata, disimpan dan dipuja. Nama Allah hanya tinggal menjadi sebutan tak bermakna.

         Kehadiran Muhammad saw mengembalikan fungsi Ka’bah sebagai simbul ke Esaan Allah maupun sebagai tonggak arah kiblat bagi kaum muslimin Ketika menegakkan shalat. Segala bentuk berhala maupun unsur-unsur mitos keberhalaan disingkirkan dari sisi Ka’bah. Kembali orang melakukan tawaf dengan cara-cara yang berperadaban dengan pakaian suci dan terhormat, ihram.

         Saat-saat setelah Nabi Muhammad wafat, telah terjadi mitosisasi kembali ibadah haji, yang terjadi karena pergeseran persepsi terhadap berbagai simbul maupun ajaran Islam yang semakin jauh dari hakikat ajaran. Mencium hajar aswad misalnya telah dipandang sebagai dambaan setiap peziarah seolah-olah sebagai suatu bagi pencapaian maksud. Orang lupa pada sikap Umar bin Khattab yang hanya karena Nabi mencium batu itu, maka Umarpun melakukannya juga. Jadi hanya suatu tradisi atau sunnah Rasul. Dan orangpun merasa bangga berkisah beberapa kali sempat mencium hajar aswad itu sepulang ziarah.

         Proses mitosisasi sebenarnya telah terjadi di tengah-tengah masyarakat secara terselubung, sehingga jika kita tidak berhati-hati dalam memilah-milah mana yang berbau syirik, khurafat ataupun yang tidak, kita akan terjerumus ke lembah kesesatan yang mendalam, sebagai akibatnya tidak dapat diampuni dosanya oleh Allah swt. Menghambakan diri terhadap harta benda, manusia, Binatang dan isi ala mini sehingga menimbulkan keyakinan bahwa hal-hal itulah yang memberikan keberkahan kepada mereka yang secara tidak sadar timbul mitos pada dirinya. Orang-orang lupa kalau di atas itu semua ada Allah yang Maha Kuasa di atas segala kekuasaan.

          Jika hal-hal ini dibiarkan berlarut-larut menghantui batin kita, maka ini akan timbul dalam sikap dan perbuatan yang ingin serba paling berkuasa, kaya, terhormat, dan sebagainya, tetapi dengan cara-cara yang illegal. Inilah barangkali timbulnya korupsi, kolusi dan nepotisme dalam kehidupan masyarakat kita sebagai akibat penghambaan diri terhadap keduniaan secara berlebihan.

         Sebagian orang berpendapat bahwa amar ma’ruf adalah lebih mudah dari nahyi mungkar. Khatib di mimbar dapat mengajak kebaikan, amar makruf di masjid, di kampung orang mengajak kerja bakti, itu juga amar makruf. Pendeknya di mana saja kita berada orang dapat beramar makruf.

         Nahyi mungkar mencegah atau memberantas kemungkaran harus melalui pengorbanan, harta, pikiran, bahkan jiwa sekalipun. KKN dianggap sebagai kemungkaran yang telah mandarah daging puluhan tahun lamanya, sehingga untuk memberantasnya cukup waktu yang lama. Akhir era Orde Baru merupakan awal era reformasi, yang masih membutuhkan pengorbanan lebih panjang lagi.

          Proses nahyi mungkar sudah diawali sejak lama terhadap KKN ini. Tetapi karena penghambaan penguasa negara terhadap keduniaan ini sangat berlebihan sehingga belum berhasil. Sesuai dengan sabda Rasulullah saw, bahwa upaya memerangi kemungkaran dimulai dengan kekuatan tangan, kemudian kekuatan lisan, jika kekuatan tangan tidak mampu lagi. Terakhir disimpan dalam hati kalau keduanya gagal mengatasinya, tetapi ini dianggap lemah imannya.

         Proses nahyi mungkar di negara kita justeru sebaliknya, diawali dari hati yang tidak tahan melihat kemungkaran, yang mencuat melalui lisan para tokoh Islam melalui peringatan-peringatan dan kritikan-kritikan tajam yang argumentative, yang akhirnya dengan kekuatan tangan, kekuatan moral memaksa Soeharto mundur dari jabatan Presiden.

          Dengan mundurnya Soeharto tersebut, maka kran-kran selama ini menutupi praktik-praktik KKN di hamper segala kehidupan bernegara mulai terbuka. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sudah cukup untuk kita teladani pengorbanannya. Setelah nyata ketaatan keduanya kepada Allah, maka Allah melarang menyembelih Ismail, yang kemudian ditebus dengan menyembelih seekor kambing. Peristiwa ini sangat besar hikmahnya dan menjadi dasar syariat kurban setiap hari raya haji, sebagaimana ditegaskan dalam ayat 2 Surat Al-Kaustar :

فصل لربك وانحر

Jadikanlah shalatmu semata-mata untuk Tuhanmu dan berkurbanlah.

         Berkurban dalam arti menyembelih binatang ternak bertujuan semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah, mencari keridhaannya dan agar manusia mensyukuri nikmat Allah yang dilimpahkan kepada mereka yang hukumnya sunnah muakkadah, sebagaimana firman Allah swt :

لن ينال الله لحومها ولٱدماؤهاولكن يناله التقوى منكم

Daging-daging itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah dan tidak pula darahnya, tetapi taqwa kamulah yang dapat mencapainya (QS Al-Hajj : 37).

          Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa dari peristiwa Ibrahim AS dan Ismail AS tersebut dapat diambil dua syariat sekaligus, syariat ibadah haji dan syariat qurban.

Wallahu A’lam Bishshawab.

0 comments:

Posting Komentar