Ahmad
Agus Bahauddin
Dalam politik, rezim (Bahasa Perancis
: regime) adalah bentuk pemerintahan, seperangkat aturan, norma budaya, sosial
dan lain-lain, yang mengatur operasi pemerintah atau lembaga dan interaksinya
dengan masyarakat (Wikipedia). Rezim adalah tata pemerintah negara atau
pemerintahan yang berkuasa dan menguasai secara total dari tingkat yang paling
bawah sampai tingkat pusat (KBBI).
Dalam konteks Pemerintah Republik
Indonesia, rezim adalah bentuk
pemerintahan, seperangkat aturan hukum yang didasarkan keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia mulai dari Pancasila, UUD 1945, Peraturan
Pemerintah, Peraturan Pemerintah Pengganti undang-undang dan seterusnya ke
bawah sesuai herarkhis peraturan perundang-undangan, semuanya harus dilandaskan
pada keadilan, kesesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia.
Jalannya roda pemerintahan tersebut
harus ada kontrol dari rakyat baik yang diwakili di DPR maupun masyarakat
langsung secara konstitusional. Kedaulatan negara ada pada rakyat, bukan
pemerintah. Pemerintah tinggal melaksanakan apa yang menjadi amanat rakyat.
Kalau kita lihat situasi dan kondisi pemerintahan sekarang ini tidak baik-baik
saja dengan carut marutnya pengelolaan negara mengenai seluruh bidang, terutama
moral, mana buktinya sejak awal pemerintahan landasan hingga saat ini belum terjadi yang namanya
revolusi mental. Berawal dari dekadensi moral yang seharusnya menjadi landasan
pokok Ke Tuhanan Yang Maha Esa justeru berbanding terbalik pemerintah hanya
mengelola bidang-bidang keduniaan, dari soal ekonomi, politik, mengabaikan soal
penegakan hukum dan keadilan dengan tumpul ke atas dan tajam ke bawah.
Penegakan hukum dan keadilan hanya menjadi slogan saja. Pemberantasan dan
pencegahan korupsi hanya terjadi pada pihak lawan politiknya bukan kawan
politiknya, Inilah yang harus diluruskan kalau ingin mencapai keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesi tidak hanya kepentingan bagi para pemilik modal
dan oligarki.
Penguasa jangan bangga karena telah
terlepas dari kedzaliman, didiklah anak-anak, kawanmu, pegawaimu dan para
wakilmu, janganlah engkau biarkan mereka berbuat kedzaliman, karena engkau akan
dituntut tentang kedzaliman mereka, sebagaimana engkau akan dituntut tentang
kedzalimanmu.
Suatu Ketika Umar bin Khattab mengirim
surat ke salah satu pegawainya, Abu Musa Al-Asy’ari. Seorang pemimpin yang
paling bahagia adalah ketika rakyatnya bahagia,
dan rezim yang paling sengsara adalah ketika rakyatnya sengsara. Hati-hatilah rezim
menyepelekan rakyat karena menjadikanmu teladan, sesungguhnya permisalanmu
adalah seperti hewan tunggang, jika hewan tersebut melihat sebuah kebun yang
hijau, maka hewan akan memakannya sampai menjadi gemuk, dan karena kegemukannya
disembelih dan dimakan.
Termaktub dalam Taurat, setiap
kedzaliman yang dilakukan oleh pegawai rezim maka kedzalimannya akan
dinisbatkan kepada sang penguasa, ia akan dihisab dan diadzab karenanya. Wajib
diketahui bahwa tidak ada orang yang paling tertipu melainkan orang yang
menjual agama dan akhiratnya dengan dunia, menjadi pelayan syahwat, menggunakan
segala cara untuk mencapai syahwat tersebut, begitu juga para pegawai rezim
yang menipu para penguasa dan membiarkan kedzaliman pada sang pengasa demi
sebuah jabatan, sama saja dengan melempar sang penguasa ke Jahanam agar sampai
kepada tujuan dan musuh yang paling jahat mana lagi yang menghendaki kehancuran
bagi dirimu demi mencari sekeping rupiah.
Kesimpulannya, siapa yang menginginkan
lestarinya keadilan pada rakyat maka hendaklah ajarkan kepada anak-anaknya dan
pegawainya cara menjaga kesejahteraan dan memperhatikan rakyatnya sebagaimana
memperhatikan keluarganya. Hal tersebut tidak akan terwujud kecuali dengan
melestarikan keadilan dari aspek batin, yakni tidak membiarkan syahwat dan
murkanya menguasai akal dan agamanya. Tidak menjadikan agama dan akalnya sebagai
tawanan bagi syahwat dan amarahnya, justeru harus menjadikan syahwat dan
amarahnya sebagai tawanan bagi akal dan agamanya.
Ketahuilah akal adalah esensi dari malaikat, dan prajurit
Allah yang mulia perannya. Adapun syahwat dan kemurkaan adalah prajurit setan,
maka barang siapa yang menjadikan prajurit Allah dan Malaikat sebagai tawanan
prajurit setan, tidaklah bisa berlaku adil pada orang lain. Cahaya keadilan
muncul pertama kali pada hati, kemudian keluarga, para pejabat negara hingga
bersinar di tengah masyarakat. Siapa yang mengharapkan sinar selain matahari,
maka sama saja mencari sesuatu yang mustahil, yakni mengharapkan sesuatu yang
tidak akan pernah didapati.
Ketahuilah wahai penguasa terlahirnya
keadilan merupakan kesempurnaan akal. Kesempurnaan akal ialah melihat segala
sesuatu sesuai dengan kadarnya. Suatu kebenaran diketahui dari batinnya dan
jangan tertipu dengan bagian luarnya. Misalnya jika engkau berbuat dzalim
kepada manusia karena dunia, maka kamu harus lihat apa yang kamu tuju.
Jika maksudmu untuk makan makanan
yang lezat maka wajib diketahui bahwa yang seperti itu adalah syahwat hewan
yang tampilannya manusia, karena syahwat makan adalah tabiat hewan. Jika kamu
menginginkan mahkota maka kamu adalah wanita dengan rupa pria, karena berhias
dan dandan merupakan kebiasaan wanita.
Jika tujuanmu untuk mengalahkan musuh
di medan perang maka sungguh kamu adalah macan atau hewan buas yang berupa
manusia, karena ada kemarahan, padahal marah adalah tabiat hewan buas. Jika
maksudmu agar melayani manusia maka engkau adalah orang bodoh dengan rupa orang
pintar. Jika kamu sadari bahwa orang yang kamu layani adalah para pelayan perut,
syahwat dan kesenangan, bahwasanya Khidmah dan tunduknya rakyat bukanlah
kesadaran sendiri untukmu. Dengan bukti, jika kekuasaanmu dirampas dan
diberikan kepada orang lain maka rakyat pasti akan meninggalkanmu. Di mana saja
rakyat mendapatkan rupiah maka rakyat pasti akan datang ke tempat tersebut.
Pada hakikatnya ini semua bukanlah
pengabdian namun ini adalah lelucon, dan orang yang bijak ialah orang yang
melihat esensi sesuatu dan tidak tertipu hanya dengan kulit luarnya saja. Barang
siapa yang tidak meyakini itu, maka ia bukan orang yang bijak dan barang siapa
yang tidak bijak, maka tidak akan bisa berlaku adil, dan siapa yang tidak
berlaku adil maka tempat kembalinya ialah Jahanam, oleh karenanya inti
kebahagiaan adalah dari Allah swt melalui kebijakan penguasa.
Wallahu
A’lamu Bishshawab.
Sumber
: ألتبر المسبوك في نصيحة الملوك
: ابو حا مد ألغزا لي
0 comments:
Posting Komentar