Jumat, 30 Juni 2023

NASIHAT IMAM AL-GHAZALI UNTUK PARA PENGUASA

Ahmad Agus Bahauddin

          Dalam politik, rezim (Bahasa Perancis : regime) adalah bentuk pemerintahan, seperangkat aturan, norma budaya, sosial dan lain-lain, yang mengatur operasi pemerintah atau lembaga dan interaksinya dengan masyarakat (Wikipedia). Rezim adalah tata pemerintah negara atau pemerintahan yang berkuasa dan menguasai secara total dari tingkat yang paling bawah sampai tingkat pusat (KBBI).

          Dalam konteks Pemerintah Republik Indonesia, rezim adalah bentuk  pemerintahan, seperangkat aturan hukum yang didasarkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia mulai dari Pancasila, UUD 1945, Peraturan Pemerintah, Peraturan Pemerintah Pengganti undang-undang dan seterusnya ke bawah sesuai herarkhis peraturan perundang-undangan, semuanya harus dilandaskan pada keadilan, kesesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia.

         Jalannya roda pemerintahan tersebut harus ada kontrol dari rakyat baik yang diwakili di DPR maupun masyarakat langsung secara konstitusional. Kedaulatan negara ada pada rakyat, bukan pemerintah. Pemerintah tinggal melaksanakan apa yang menjadi amanat rakyat. Kalau kita lihat situasi dan kondisi pemerintahan sekarang ini tidak baik-baik saja dengan carut marutnya pengelolaan negara mengenai seluruh bidang, terutama moral, mana buktinya sejak awal pemerintahan landasan  hingga saat ini belum terjadi yang namanya revolusi mental. Berawal dari dekadensi moral yang seharusnya menjadi landasan pokok Ke Tuhanan Yang Maha Esa justeru berbanding terbalik pemerintah hanya mengelola bidang-bidang keduniaan, dari soal ekonomi, politik, mengabaikan soal penegakan hukum dan keadilan dengan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Penegakan hukum dan keadilan hanya menjadi slogan saja. Pemberantasan dan pencegahan korupsi hanya terjadi pada pihak lawan politiknya bukan kawan politiknya, Inilah yang harus diluruskan kalau ingin mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesi tidak hanya kepentingan bagi para pemilik modal dan oligarki.

         Penguasa jangan bangga karena telah terlepas dari kedzaliman, didiklah anak-anak, kawanmu, pegawaimu dan para wakilmu, janganlah engkau biarkan mereka berbuat kedzaliman, karena engkau akan dituntut tentang kedzaliman mereka, sebagaimana engkau akan dituntut tentang kedzalimanmu.

          Suatu Ketika Umar bin Khattab mengirim surat ke salah satu pegawainya, Abu Musa Al-Asy’ari. Seorang pemimpin yang paling bahagia  adalah ketika rakyatnya bahagia, dan rezim yang paling sengsara adalah ketika rakyatnya sengsara. Hati-hatilah rezim menyepelekan rakyat karena menjadikanmu teladan, sesungguhnya permisalanmu adalah seperti hewan tunggang, jika hewan tersebut melihat sebuah kebun yang hijau, maka hewan akan memakannya sampai menjadi gemuk, dan karena kegemukannya disembelih dan dimakan.

         Termaktub dalam Taurat, setiap kedzaliman yang dilakukan oleh pegawai rezim maka kedzalimannya akan dinisbatkan kepada sang penguasa, ia akan dihisab dan diadzab karenanya. Wajib diketahui bahwa tidak ada orang yang paling tertipu melainkan orang yang menjual agama dan akhiratnya dengan dunia, menjadi pelayan syahwat, menggunakan segala cara untuk mencapai syahwat tersebut, begitu juga para pegawai rezim yang menipu para penguasa dan membiarkan kedzaliman pada sang pengasa demi sebuah jabatan, sama saja dengan melempar sang penguasa ke Jahanam agar sampai kepada tujuan dan musuh yang paling jahat mana lagi yang menghendaki kehancuran bagi dirimu demi mencari sekeping rupiah.

         Kesimpulannya, siapa yang menginginkan lestarinya keadilan pada rakyat maka hendaklah ajarkan kepada anak-anaknya dan pegawainya cara menjaga kesejahteraan dan memperhatikan rakyatnya sebagaimana memperhatikan keluarganya. Hal tersebut tidak akan terwujud kecuali dengan melestarikan keadilan dari aspek batin, yakni tidak membiarkan syahwat dan murkanya menguasai akal dan agamanya. Tidak menjadikan agama dan akalnya sebagai tawanan bagi syahwat dan amarahnya, justeru harus menjadikan syahwat dan amarahnya sebagai tawanan bagi akal dan agamanya.

          Ketahuilah  akal adalah esensi dari malaikat, dan prajurit Allah yang mulia perannya. Adapun syahwat dan kemurkaan adalah prajurit setan, maka barang siapa yang menjadikan prajurit Allah dan Malaikat sebagai tawanan prajurit setan, tidaklah bisa berlaku adil pada orang lain. Cahaya keadilan muncul pertama kali pada hati, kemudian keluarga, para pejabat negara hingga bersinar di tengah masyarakat. Siapa yang mengharapkan sinar selain matahari, maka sama saja mencari sesuatu yang mustahil, yakni mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah didapati.

         Ketahuilah wahai penguasa terlahirnya keadilan merupakan kesempurnaan akal. Kesempurnaan akal ialah melihat segala sesuatu sesuai dengan kadarnya. Suatu kebenaran diketahui dari batinnya dan jangan tertipu dengan bagian luarnya. Misalnya jika engkau berbuat dzalim kepada manusia karena dunia, maka kamu harus lihat apa yang kamu tuju.

          Jika maksudmu untuk makan makanan yang lezat maka wajib diketahui bahwa yang seperti itu adalah syahwat hewan yang tampilannya manusia, karena syahwat makan adalah tabiat hewan. Jika kamu menginginkan mahkota maka kamu adalah wanita dengan rupa pria, karena berhias dan dandan merupakan kebiasaan wanita.

         Jika tujuanmu untuk mengalahkan musuh di medan perang maka sungguh kamu adalah macan atau hewan buas yang berupa manusia, karena ada kemarahan, padahal marah adalah tabiat hewan buas. Jika maksudmu agar melayani manusia maka engkau adalah orang bodoh dengan rupa orang pintar. Jika kamu sadari bahwa orang yang kamu layani adalah para pelayan perut, syahwat dan kesenangan, bahwasanya Khidmah dan tunduknya rakyat bukanlah kesadaran sendiri untukmu. Dengan bukti, jika kekuasaanmu dirampas dan diberikan kepada orang lain maka rakyat pasti akan meninggalkanmu. Di mana saja rakyat mendapatkan rupiah maka rakyat pasti akan datang ke tempat tersebut.

         Pada hakikatnya ini semua bukanlah pengabdian namun ini adalah lelucon, dan orang yang bijak ialah orang yang melihat esensi sesuatu dan tidak tertipu hanya dengan kulit luarnya saja. Barang siapa yang tidak meyakini itu, maka ia bukan orang yang bijak dan barang siapa yang tidak bijak, maka tidak akan bisa berlaku adil, dan siapa yang tidak berlaku adil maka tempat kembalinya ialah Jahanam, oleh karenanya inti kebahagiaan adalah dari Allah swt melalui kebijakan penguasa.

Wallahu A’lamu Bishshawab.

Sumber :    ألتبر المسبوك في نصيحة الملوك : ابو حا مد ألغزا لي

         

           

0 comments:

Posting Komentar