Ahmad
Agus Bahauddin
Allah swt memerintahkan kepada Nabi
Muhammad saw agar mengingatkan orang-orang musyrik Mekah yang
menghalang-halangi kaum muslimin masuk ke kota Mekah, bahwa Ka’bah ini dibina
oleh nenek moyang mereka Ibrahim dan putranya Ismail atas perintah Allah swt.
Allah memerintahkan Ibrahim dan
umatnya agar membersihkan Ka’bah dari perbuatan syirik dan najis, sehingga umat
dapat melaksanakan ibadah haji di Ka’bah itu.
Allah swt memerintah Ibrahim agar
menyeru manusia melaksanakan ibadah haji ke Ka’bah yang telah dibinanya itu.
Karena dengan ibadah haji tersebut mereka akan memperoleh manfaat yang banyak,
berguna bagi kehidupan duniawi untuk mencapai kebahagiaan di akhirat nanti.
Allah swt memerintahkan kepada Ibrahim
agar menyeru manusia mengerjakan ibadah haji ke Baitullah dan menyampaikan
kepada mereka bahwa ibadah haji itu termasuk ibadah yang diwajibkan bagi kaum
muslimin.
Para ulama mencoba melukiskan
bentuk-bentuk manfaat yang mungkin diperoleh para haji, tentunya setelah mereka
mengalami dan mempelajarinya, diantaranya :
1. Melatih
diri dengan kemampuan mengingat Allah swt secara khusyu’ pada hari-hari yang
telah ditentukan dengan memurnikan kepatuhan dan ketundukan hanya kepada Allah
saja.
2. Menimbulkan
rasa perdamaian dan persaudaraan di antara kaum muslimin.
3. Mencoba
mengalami dan membayangkan kehidupan di akhirat yang pada waktu itu tidak
seorangpun dapat memberikan pertolongan kecuali Allah Tuhan Yang Maha Kuasa.
Melalui wuquf di Arafah bagaikan hidup di Padang Mahsyar. Melempar jumrah di
panas terik matahari di tengah padang pasir, itu semua menggambarkan saat-saat
ketika manusia berdiri di hadapan Mahkamah Allah di akhirat.
4. Menghilangkan
rasa rendah diri yang berlebihan.
5. Menghayati
kehidupan dan perjuangan Nabi Ibrahim beserta putranya Nabi Ismail dan Nabi
Muhammad beserta sahabatnya.
6. Sebagai
muktamar Islam seluruh dunia.
7. Dari
orang-orang yang telah mengerjakan haji diperoleh keterangan bahwa keinginan
mereka menunaikan ibadah haji bertambah setelah mereka selesai menunaikan
ibadah haji yang pertama.
8. Rahasia
dan manfaat ibadah haji dapat dipahamkan pula dari doa Nabi Ibrahim kepada
Allah swt :
فاجعل أفئدة من الناس تهوى إليهم
Maka jadikanlah hati sebagian
manusia cenderung kepada mereka. (QS 14 Ibrahim : 37).
9. Agar
manusia menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan, hari raya
haji dan hari-hari tasyriq tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, serta
melaksanakan kurban dengan menyebut nama Allah untuk menyembelih Binatang
kurban itu. Rasulullah saw bersabda :
من ذبح قبل الصلاة فإنما ذبح لنفسه ومن ذبح بعدالصلاة فقد تم نسكه
واصاب سنة المسلمين
Barang siapa menyembelih kurban
sebelum shalat Idul Adha, maka ia hanyalah menyembelih untuk dirinya sendiri,
dan barang siapa menyembelih sesudah shalat Idul Adha, makai a telah
menyempurnakan ibadahnya, serta telah melaksanakan sunnah kaum muslimin (HR.
Bukhari)
Dan
sabda Rasulullah saw :
ايام التشريق كلها ذبح : Semua
hari tasyriq adalah waktu dilakukannya penyembelihan kurban (HR. Ahmad dari
Jubair bin Muthni).
Setelah mengerjakan haji dan
penyembelihan binatang kurban hendaklah
melakukan tiga hal :
1. Menghilangkan
dengki atau kotoran pada diri mereka dengan menggunting rambut, mengerat kuku,
dan sebagainya. Hal ini diperintahkan karena dilarang melakukannya melakukannya
selama melakukan ibadah haji. Perbuatan ini dinamakan tahallul.
2. Melaksanakan
nadzar yang pernah diikrarkan, karena pada waktu, tempat dan keadaan inilah
yang paling baik menyempurnakan nadzar.
3. Melakukan
tawaf ifadhah di Baitul Athiq yang merupakan salah satu rukun haji. Disebut
Baitul Athiq yang berarti rumah tua, karena Baitullah adalah rumah ibadah
pertama kali didirikan oleh Nabi Ibrahim beserta putranya Nabi Ismail AS,
kemudian barulah didirikan Baitul Maqdis oleh Nabi Daud AS beserta Nabi
Sulaiman AS. Itulah uraian dan penjelasan dari QS Hajj ayat 27-29 :
وأذن في الناس بالحج يأتوك
رجالا وعلى كل ضامريأتين من كل فج عميق٠٢٧ليشهدوا منافع لهم ويذكر اسم الله في ايام
معلومات على مارزقهم منبهيمة الانغام فكلومنها وأطعموالبائس الفقير٠٢٨ثم ليقضواتفثهم
واليوفوانذورهم واليطوفوابالبيت العطيق٠٢٩
Dan serulah manusia untuk mengerjakan
haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau
mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang
jauh. (27). Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar
mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki
yang diberikan Dia kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya
dan sebagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan faqir
(28). Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada di badan mereka,
menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua
(Baitullah)(29).
Idul Adha atau disebut Idul Qurban ini
dihadapkan pada suasana panas menjelang pilpres 2024, situasi politik, ekonomi,
darurat korupsi, bahkan dekaensi moral, saling menghujat, mencaci, penjegalan
Bacapres, dan lain-lain belum ada tanda-tanda reda. Semoga dalam waktu yang
dekat semuanya diatasi dengan suasana damai. Ditambah munculnya isu ajaran
Islam sesat dan pelecehan seksual oleh pimpinan pondok pesantren al-Zaitun yang
sekarang masih dalam penyelidikan.
Itu semua mengancam kerukunan ummat
beragama, antar ras dan suku, mengancam persatuan dan kesatuan bangsa yang
mengarah disintegrasi bangsa Indonesia.
Kondisi semacam itu merupakan
tantangan bagi kita khususnya ummat Islam untuk mencari solusinya melawan
tantangan itu, dengan berdoa kepada Allah, kita kembalikan kepada-Nya semoga
badai keprihatinan bangsa Indonesia cepat berlalu. Keprihatinan orang-orang
yang beriman adalah cobaan, dan bagi mereka yang tidak beriman merupakan
siksaan Allah swt.
Bagi kaum muslimin Indonesia terhadap
kondisi tersebut adalah panggilan untuk berkurban dalam pengertian yang luas,
mencurahkan daya dan pikiran kita, amwal (harta), dan anfus (jiwa) yang
diimplementasikan melalui jihad (berjuang) di jalan Allah swt. Sehingga jika
berbicara soal panggilan Allah tidak saja dalam hal ibadah haji yang memenuhi
panggilan Allah, tetapi juga dalam hal jihad sebagaimana firman Allah swt :
إنفرواخفافا
وثقالا وجاهدوا بأموالكم وأنفسكم في سبيل الله ٬ ذالكم خيرلكم إن كنتم تعلمون
Berangkatlah
kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat dan berjihadlah
dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik
bagimu jika kamu mengetahui.
Jihad di jalan Allah di sini bukan
saja dalam pengertian perang secara fisik dengan memanggul senjata, tetapi
mempunyai arti yang lebih luas, mengorbankan harta dan jiwannya guna memerangi
keangkara murkaan, kemungkaran, kemiskinan, keterbelakangan dan lain-lain.
Tidak seorangpun mempunyai alasan baik
aqli maupun naqli untuk menolak anggapan bahwa ibadah haji adalah soal
panggilan. Bukankah QS Al-Hajj : 27 di atas telah menyatakan agar Nabi Ibrahim
memanggil umat manusia untuk menunaikan ibadah haji.
Ibadah shalat wajib maupun
ibadah-ibadah lainnya juga ditegakkan dengan panggilan lebih dahulu. Adzan
adalah panggilan yang mendahului shalat. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa
hanya ibadah haji saja yang diyakini sebagai berkaitan dengan soal panggilan.
Ada kecenderungan orang untuk memandang amat berlebihan terhadap ibadah yang
satu ini.
Sebenarnya kemanapun manusia
merencanakan pergi, termasuk menunaikan ibadah haji, factor kehendak Ilahy pun
akan tetap terjadi. Demikian sebaliknya, secara tidak disengaja dan disangka
sebelumnya orang dapat bepergian kemanapun.
Allah tidak akan memilih-milih
hamba-Nya untuk berbuat ibadah apapun kepada Allah swt. Semua orang mendapat
peluang yang sama dan panggilan yang sama, termasuk panggilan untuk pergi haji,
panggilan menegakkan shalat, dan sebagainya. Tinggal bagaimana tanggapan orang
yang mendengar panggilan tersebut. Apakah dengan panggilan itu orang akan
terpanggil segera memenuhi panggilan atau pura-pura mendengar kemudian tidak
segera melaksanakannya atau bahkan semakin menjauhinya, padahal baginya telah
terpenuhi syarat istito’ah.
Faktor yang lebih pending dalam
melaksanakan ibadah faktor betapa besar motivasi maupun tekad, yang lebih
dikenal sebagai niyyat yang mendasari ibadah tersebut. Bukankah Nabi Muhammad
saw telah mengatakan :
إنما الأعمال
بالنيات
Segala perbuatan itu
tergantung dari niatnya, dari tekadnya.
Menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW sekitar tahun gajah ribuan tahun
setelah Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahim, para kafir jahiliyah masih tetap
taat melakukan tawaf dengan menegelilingi Ka’bah. Namun konon dilakukan dengan
cara-cara yang membuat rishi. Ka’bah bukan lagi simbul ke Esaan Tuhan Allah,
melainkan sebagai pantheon, tempat segala macam berhala, terutama al-manat,
al-uzza, allata, disimpan dan dipuja. Nama Allah hanya tinggal menjadi sebutan
tak bermakna.
Kehadiran Muhammad saw mengembalikan
fungsi Ka’bah sebagai simbul ke Esaan Allah maupun sebagai tonggak arah kiblat
bagi kaum muslimin Ketika menegakkan shalat. Segala bentuk berhala maupun
unsur-unsur mitos keberhalaan disingkirkan dari sisi Ka’bah. Kembali orang
melakukan tawaf dengan cara-cara yang berperadaban dengan pakaian suci dan
terhormat, ihram.
Saat-saat setelah Nabi Muhammad wafat,
telah terjadi mitosisasi kembali ibadah haji, yang terjadi karena pergeseran
persepsi terhadap berbagai simbul maupun ajaran Islam yang semakin jauh dari
hakikat ajaran. Mencium hajar aswad misalnya telah dipandang sebagai dambaan
setiap peziarah seolah-olah sebagai suatu bagi pencapaian maksud. Orang lupa
pada sikap Umar bin Khattab yang hanya karena Nabi mencium batu itu, maka Umarpun
melakukannya juga. Jadi hanya suatu tradisi atau sunnah Rasul. Dan orangpun
merasa bangga berkisah beberapa kali sempat mencium hajar aswad itu sepulang
ziarah.
Proses mitosisasi sebenarnya telah
terjadi di tengah-tengah masyarakat secara terselubung, sehingga jika kita
tidak berhati-hati dalam memilah-milah mana yang berbau syirik, khurafat
ataupun yang tidak, kita akan terjerumus ke lembah kesesatan yang mendalam,
sebagai akibatnya tidak dapat diampuni dosanya oleh Allah swt. Menghambakan
diri terhadap harta benda, manusia, Binatang dan isi ala mini sehingga
menimbulkan keyakinan bahwa hal-hal itulah yang memberikan keberkahan kepada
mereka yang secara tidak sadar timbul mitos pada dirinya. Orang-orang lupa
kalau di atas itu semua ada Allah yang Maha Kuasa di atas segala kekuasaan.
Jika hal-hal ini dibiarkan
berlarut-larut menghantui batin kita, maka ini akan timbul dalam sikap dan
perbuatan yang ingin serba paling berkuasa, kaya, terhormat, dan sebagainya,
tetapi dengan cara-cara yang illegal. Inilah barangkali timbulnya korupsi,
kolusi dan nepotisme dalam kehidupan masyarakat kita sebagai akibat penghambaan
diri terhadap keduniaan secara berlebihan.
Sebagian orang berpendapat bahwa amar
ma’ruf adalah lebih mudah dari nahyi mungkar. Khatib di mimbar dapat mengajak
kebaikan, amar makruf di masjid, di kampung orang mengajak kerja bakti, itu
juga amar makruf. Pendeknya di mana saja kita berada orang dapat beramar
makruf.
Nahyi mungkar mencegah atau memberantas
kemungkaran harus melalui pengorbanan, harta, pikiran, bahkan jiwa sekalipun.
KKN dianggap sebagai kemungkaran yang telah mandarah daging puluhan tahun
lamanya, sehingga untuk memberantasnya cukup waktu yang lama. Akhir era Orde
Baru merupakan awal era reformasi, yang masih membutuhkan pengorbanan lebih panjang
lagi.
Proses nahyi mungkar sudah diawali
sejak lama terhadap KKN ini. Tetapi karena penghambaan penguasa negara terhadap
keduniaan ini sangat berlebihan sehingga belum berhasil. Sesuai dengan sabda
Rasulullah saw, bahwa upaya memerangi kemungkaran dimulai dengan kekuatan
tangan, kemudian kekuatan lisan, jika kekuatan tangan tidak mampu lagi.
Terakhir disimpan dalam hati kalau keduanya gagal mengatasinya, tetapi ini
dianggap lemah imannya.
Proses nahyi mungkar di negara kita
justeru sebaliknya, diawali dari hati yang tidak tahan melihat kemungkaran,
yang mencuat melalui lisan para tokoh Islam melalui peringatan-peringatan dan
kritikan-kritikan tajam yang argumentative, yang akhirnya dengan kekuatan
tangan, kekuatan moral memaksa Soeharto mundur dari jabatan Presiden.
Dengan mundurnya Soeharto tersebut,
maka kran-kran selama ini menutupi praktik-praktik KKN di hamper segala
kehidupan bernegara mulai terbuka. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS
sudah cukup untuk kita teladani pengorbanannya. Setelah nyata ketaatan keduanya
kepada Allah, maka Allah melarang menyembelih Ismail, yang kemudian ditebus
dengan menyembelih seekor kambing. Peristiwa ini sangat besar hikmahnya dan
menjadi dasar syariat kurban setiap hari raya haji, sebagaimana ditegaskan
dalam ayat 2 Surat Al-Kaustar :
فصل لربك
وانحر
Jadikanlah shalatmu
semata-mata untuk Tuhanmu dan berkurbanlah.
Berkurban
dalam arti menyembelih binatang ternak bertujuan semata-mata untuk mendekatkan
diri kepada Allah, mencari keridhaannya dan agar manusia mensyukuri nikmat
Allah yang dilimpahkan kepada mereka yang hukumnya sunnah muakkadah,
sebagaimana firman Allah swt :
لن ينال
الله لحومها ولٱدماؤهاولكن يناله التقوى منكم
Daging-daging
itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah dan tidak pula darahnya,
tetapi taqwa kamulah yang dapat mencapainya (QS Al-Hajj : 37).
Dari uraian di atas, dapat diambil
kesimpulan bahwa dari peristiwa Ibrahim AS dan Ismail AS tersebut dapat diambil
dua syariat sekaligus, syariat ibadah haji dan syariat qurban.
Wallahu
A’lam Bishshawab.